Senin, 26 Desember 2016

Sesekali



Sesekali bepergianlah
ke genting menara,
Rasakan sensasi
bertemu bibir langit,
Pandang liurnya menodai teras rumah.

Sesekali bertandanglah ke  persimpangan jalan, menengok lampu berkedap bagai kunang-kunang perkotaan.

sesekali tontonlah anak kucing yang lelap dalam dekap  bulunya sendiri,
haruskah kagum atau malah kasihan ?


Jumat, 02 Desember 2016

12.37

aku takjub pada juni  yang tabah
dengan hujan,
Mengilas puisi dimatamu
Menjadikan gerimis diawal desember

Pejamkan mata itu
Redupkan  kamarmu
Petuah mimpi berlonceng semu
semua fana kecuali waktu

Tenggelam dalam sajak-sajak dikeningmu,
Saat detik pertama mengecupnya

12.37 pm
Ribuan titis air dari langit
Menunggang dedaunan
Genting satiris mencaci angin
Jendela menyebutnya hujan
Dari dingin jelma kerinduan









 



Senin, 14 November 2016

Ajak aku ke prau bait 2



senja Tak lagi berombak , 
jingga menjelma gemuruh mendung penghantar kepergianmu.

Biarkan suara hujan 
menyampaikan puisi-puisi terakhirku,

Kita tak setara menyebut cinta
Aku mengenangmu lewat luka
Kau mengingatku bernama hina

canangkan di benakmu
Selamanya kau adalah prau
Tempatku memandangi sore terbaik.


Sabtu, 05 November 2016

Kejar

pengejar layang-layang
Bersorak tak beralas kaki
Mengekori matahari
Lantang berlari
Tak henti.

Engah-engah dipadang berantah
mengotori hijaunya karpet dengan tetesan Keringatnya,
Ia menoleh ke sisi langit seakan  mengadu perihal sulitnya mengejar bayangan awan.


Rabu, 02 November 2016

Lembayung bait 4

Aku menaruh perhatian pada pola artistik rintik hujan,
Melihat titis penuh khidmat bagai memandangi pesona air mata,  
Langit, awan berhias kesedihan  persepsi puitis para pujangga.

Dihalaman nampak sebelah terompah kehujanan, aku heran mengapa ia tak berpasangan,
aku turut merasakan kesedihannya
Bagai sebatang rokok yang basah,
tak berguna.
Mungkin pasangannya sedang berteduh dibawah cemara,
Ataukah ia asyik bercumbu diseberang senja.


Rumput dan daun bait 2

Sehabis hujan,
daun menanyai rumput yang asyik mengeringkan ilalang.

Daun: "hei,menurutmu aku harus berterima kasih kepada dahan?"
Rumput: "tidak,kau harus balas budi pada duri yang menjaga dahan".
Daun :"aku sangat membenci duri !!, serupa engkau dendam pada kubangan"
Rumput: "kawan,aku menyukai air bagaimanapun bentuknya".

Sembari tersipu rumput melanjutkan menjemur tubuhnya.


Senin, 24 Oktober 2016

Pandirasa



mungkin Buatmu aku hanya Pena yang kehabisan selubung tinta,
Tak lagi berguna,
Sebatas penghias meja atau
penghuni tempat sampah,
Hina.

Persetan,
Biarkan,

bagiku kau selalu menjadi kertas di penghujung diktat skripsi
Lembaran berwarna jingga berisikan nama pemilik segala pujian.


Kamis, 20 Oktober 2016

Jeluk ramai bait 3



Pemandang gerak Panorama dahan,membuatku berasa animasi ketenangan,
Ketika memandangi pusparagam langit lebih asyik dibanding bermain dengan awan.
Aku lebih memilih menebak seberapa desibel suara angin sembari bersiul dikursi goyang,ketimbang mengunjungi caffee agar terlihat kekinian,

sebelum memulai rutinitas, aku biasakan Membalas senyum perkutut, yang selalu menyapaku dalam sangkar kayu.

Tak luput pula tunduk ke arah liontin pemberianmu, sebagai riang pemanis laksana kental madu dalam cangkir teh pagiku.


Selasa, 18 Oktober 2016

Luka perana

Di kamarku kini mendung
Awan gelap menyelimuti
Suara cicak laksana rintik,
Mengingatmu,
Rasa-rasanya turun hujan

aku ibarat pohon yang engkau tebang menggunakan silet,tergores hari demi hari membuatku tumbang perlahan, menerpa duri belukar.

Tiap prosa untukmu
Aku jadikan Pesawat origami,
entahlah
hembusan angin menyampaikan tulisanku atau malah meniupkannya ke arah pembuangan limbah.

Aku juga tak pandai bermain harmonika,
Atau melantukan nada syurga
Aku hanya mampu menyusun huruf
Menjadikannya kata "luka".
Hina.


Senin, 17 Oktober 2016

Yuana



Yuana  dipintu kolong
Memandangi cercah cahaya, bagai   mengintai bola benang,
sesekali pula mengelus karpet,
Tatapan imut,seirama kumisnya yang  menggemaskan,

Aku Bergumam tawa
Betapa lucunya spesies ini
sembari meneguk teh pagi.

Terima kasih yuana,
tingkah polosmu telah menghardik ingatanku tentang mata sipitnya.


Selasa, 11 Oktober 2016

Telaga pelangi

Aku menyukai situasi dirakit terapung,memandangi gerak vertikal batok yang jatuh,
menyentuh dangkal sungai,
Membuat Air tadinya mematung dibuatnya teriak terpercik.

Terdengar pula
suara-suara  hembusan, bagai jemari menggelitik,membuatku terkekeh menawan.

pandanganku terkunci pada
bayang bulan diatas sungai,
terlihat sosokmu menyerupai pancaran bintang diantara lumut,

Terpendar sosok sipitmu laksana perahu ditengah telaga pelangi.




 









Sabtu, 08 Oktober 2016

Rumput dan daun bait 1

Rintik berteduh diteras depan,
berpangku tangan sembari mendengar perbincangan antara daun dan rumput.

Daun :  "menurutmu embun cemburu kepada hujan? "

Rumput: "tidak,ia lebih deras dari air terjun sekalipun"

Daun:  "hei lihatlah bungaKu  berguguran"

Rumput:  "benarkah?,aku akan memeluknya sebelum ia membusuk"

Daun : "hujan membuatmu menjadi kubangan"

Rumput : "aku tetaplah permadani  meskipun berbau keringat kerbau"

Perkataan rumput menjadikan daun kemarau ditengah hujan.


Rabu, 05 Oktober 2016

Rabu



Senin semasa SMA
Ingatku kita terjebak upacara
engkau bertugas menggerek bendera,
Aku memandangimu penuh bahagia,
bangga,
meski itu rahasia.

Selasa,kala rincing bel berbunyi, ibarat bunga matahari, aku berfokus ke arah pancar sinar mata sipitmu,
Mengawasi dibalik selasar pot 
sampai akhirnya kita berpapasan, sekilas aku merasakan hujan, 
Ingin rasanya  melambatkan detik agar rintiknya jatuh perlahan.

Aku menyukai sekolah dihari rabu,
Kita bersua digerbang putih abu-abu,
aku setia Menunggumu pulang,
Meski lelaki lain yang mengawalmu  datang.



Jumat, 30 September 2016

Rinai di sipitmu

aku rinai yang menatapmu dari ventilasi malam
Memelukmu ibarat kabut
Menidurkanmu bersama bias penyesalan.

aku suka mengingat sipitmu meski itu duka yang membuatku terisak  hujan,
Niscaya membuatmu tertidur saat mendengar deras rintiknya.

aku terjemahkan tiap butir  gerimis,mengingatkanku
derita payung yang kau buka tutup sesuka hatimu.
 


Senin, 26 September 2016

Lembayung bait 3

senja,kian aku nanti
Akan menjelma janur warna warni,
dilamin pernikahanmu Kelak Nanti,
biarkan aku menulis puisi, 
sebagai pengingatku Menanti,
tetaplah Yakini
saat pesta resepsi,
itu tiba banyak prosa patah hati,
yang kan datang bertamu Bagai ribuan bulu merpati,
Engkaulah wanita yang membuatku merasa sesakit ini,
Tetapi Aku tegar menghampiri,
layaknya gerimis september,
Menghujani,
Ranting,
Mengakhiri
Kemarau.



Sabtu, 24 September 2016

juru Langit subuh



Hai ?
Masih ada jejak tanganku di seberang jendelamu ?,
menjelma tetesan embun,sebagai bukti akulah lelaki subuh yang setia  memandangimu terlelap memeluk guling.

Aku juga ibarat puisi yang Menyelinap diantara buku exact di meja samping tempat tidurmu,
Sesekali aku juga menjelma kecoak, turut membuatmu merasa jijik.

Setiba senja, aku laksana dermaga
menanti kepulangan pupil sipitmu dengan iring-iringan parade paling puitis.


Kamis, 22 September 2016

05.46

daun muram dibalik jendela
seakan ia berharap angin tuk menghalaunya hingga ke seberang trotoar.

Selagi jalan raya masih berselimut,
pulanglah, tak seorangpun akan  tahu engkau berkunjung sedini ini.

Aku menikmati pagi sehabis subuh,hanya diberanda kamar, sembari hadirkan ingatan suara lembutmu,aku mengingatnya bagai alunan musik bambu,
menenangkan.

Aku memasang headset
menyetel sheila,
kafilah melankolis favoritku,
Sebagai alasan Pengantar teh hangat ke kerongkonganku,
Seraya duta melantungkan
sephia,
Aku bersama Pagi semenjak ia mulai bercerita.
Menenangkan.





Selasa, 20 September 2016

Bougenville

Kuntum sajak merekah
Semerbak harum mewabah
Wewangian puitis menyeguk,
Mengecup sipitMu diteras bougenville.

seroja diperawakan taman
Indah bak ornamen mahkota
Per-kenanlah aku sematkan dikerudungMu.

Bangku bunga juga pagoda   Memandangi dahan jatuh perlahan,
bersimphoni, dengan rinduku yang kini gugur berserakan.

ingat tentang layu sipitMu,serupa ijuk yang merapikan daun-daun kerinduan ditaman bougenville.





Minggu, 18 September 2016

legiku

Elegi mengarai malam
Meratapi tutur sewaktu fajar,
serupa cangkir tanpa ampas,
hampa.

Aku menolak melupakan,
Menyalahgunakan tiap jengkal ingatanku, menodai peringai "rindu".

Ikrarku melepasMu,
Tuk kesekian kalinya, aku tak sanggup,
WajahMu selalu buatku gugup
Tak mampu berlapang dada.
Hanya menerima takdir sembari menepuk dada,saat kita,
tak mungkin (lagi) bersama.

bagai anak kucing yang tertidur pulas, aku ingin membelai sipit polosMu meski hanya sebatas analogi.

Perlu jatuh tuk mengenal cinta,
Butuh patah hati sekaligus jatuh cinta tuk  mengungkapnya.
Berbahagialah.











Jumat, 16 September 2016

.Senja 17.56

Perihal jingga
Yang mengingatkanku kisah gantungan kunci,
Pena mengartikannya menjadi prosa patah hati.
  MengingatMu awalan ritualku memulai senja, laksana lembaran kertas yang menggulung ditiup  hembusan.
Beringat pupil sipitMu yang berkedip tiap kali aku bertingkah konyol,terkekek kecil sembari sesekali memandangiku penuh harap.
mengingat kembali resonan pita suaraMu saat melafalkan kapital namaku,
masih terngiang Warna putih yang kau sebut itu tanda jodoh,ketika kita tanpa sengaja mengenakan baju berwarna sama tanpa rencana sebelumnya.

Masih terbersik wangi harum di pundak sebelah kananKu saat kita saling bertatap malam, tanpa  hiburan, yang ada hanya kita,bintang, jua kerikil berserakan, 

diteras rumahMu waktu itu, aku ibarat lelaki paling rupawan,memiliki permaisuri cantik tanpa dandanan.

Aku memanggilMu sebelum langit berkecamuk hitam,
Senja, aku setia  menantinya,  sematkanlah bersama lamunanku petang ini,
Menjadikannya lengkung penuh tanda tanya.
maaf, Aku masih mengingatMu.


Rabu, 14 September 2016

kencana



Kencana tak nampak
Aku rindu kerudungnya
Hendak di hujan september
Ia datang menyapa, sekali saja

Kencana pura-pura
Berucap segera pulang
Tuk MelihatKu menatap senja
Memandangku berpuisi

Kencana hulu petang
SenjaNya tuk orang lain
Mengecup dihilir jingga
Menyikapku bagai dosa

Sanna pa'risi kencana
jamuan rintik mata
Engkau pandai beranjak
tunggang angin membawaMu,
Pergi jauh,sekali selamanya


Selasa, 13 September 2016

Trilogi

Roman sipitMu masih seperti yang lalu,sama saat kemeja hitamku  masih bercorak putih abu-abu,
teringat pula  liontin pemberianMu kini menggelantung dikunci motorku, semasih terbungkus pita kado,
Buah bingkisan dariMu saat harlah hari kelahiranku.

Tetaplah seperti angin kemarau yang menyapaku bersama rintik pertama di bulan september,

sekarang, engkau di seberang pulau menikmati lembayung senja dengan lelaki pilihanMu.

Tetapi ingatlah selalu ada sesosok pengagum aneh yang mewarnai   jingga kepergianMu.
Berbahagialah.


Minggu, 11 September 2016

Septa ramai



Puisiku kemarau di awal september
kalimatnya gersang kekurangan curah hujan,
Tiap Kata kepanasan,hingga keringat bertinta merah bercucuran.
melukai bulan kelahiranku.

para penikmat nyala kedip lentera, duduk melingkar di tengah kawanan,mereka menggilir kopi pahit,aku memesan secangkir teh jasmin,plano pelayan menyisihkan musik melankolis kegemaranku,
gertak syairnya

"Kau harus bisa berlapang dada"
" Karena semua tak lagi sama"


kau tahu sayang ?
banyak gelak berhamburan bagai susunan rasi bintang.
Terima kasih ,Sejenak mampu melupakan patah hati,  yang membuatku berpantomin di antara bayang ramai.

Langit,
buih Teh jasmin
Malam yang sempurna.


Jumat, 09 September 2016

Larik-larik



  WajahMu  mematikan senja yang lama aku nantikan,memuramkan nyanyian romantis menjadikannya suara gesekan biola kesedihan.

ibaratkan seekor burung dara yang Mencoba hidup di sangkar rotan buatanMu, kau memberiku makan berupa sayuran layu, dengan sengaja menuang  air keruh berisi  biji nikel ke minumanku, menjadikan kerongkorangan ini sesak tak mengenal rasa, kecuali kersang kesakitan.

Larik-larik berkepaklah
Aku hanya anak burung yang kau sekap di kurungan ingatan masa lalu.



Rabu, 07 September 2016

Lembayung bait 2



"Pagi yang terlalu malam"
hanya serupa pelamun langit, tiap sore mengitari setapak menggeledah tempat tuk bertemu senja, 
mencari wadah menyandarkan punggungku dari rutinitas keseharian,aku suka menatap lembayung jingga yang menghiasi tudung perahu nelayan,ibarat mahkota berhias berlian.
Waktu tepat untuk menyendiri, turut merunungkan bias pembatas,melupakan tumpukan kertas, ataupun tumpahan tinta di kemeja putihku,
Aku menikmati menatapnya dari hilir jalan raya,duduk serong di atas sadel,menghirup udara sebelum ia sempat ke lautan.
Harapanku dik,
engkau  menggenggam lenganku,menyaksikan senja turun perlahan,meski cuma sedetik,hanya ingin memandangi mata sipit  piluhMu,
di latar senja sore ini,
Aku tetap pelamun langit meski dulu kau adalah awan yang memulai hujan di mataku.


Selasa, 06 September 2016

07.32

Apa kabarMu lembayung ?
Bagaimana rutinitasMu?
daun mataMu masih sipit?,
Di mana diriMu yang kemarin?

Hanya kalimat tanya sederhana yang terngiang di benakku bagai suara diengsel pintu

Aku meminta maaf tentang fotoMu,  yang diam-diam aku selipkan di antara tumpukan kertas kerjaanKu,
Bertindak sebagai penyejuk ruangan di meja kerja.

satu lagi, Mengenai rintik pagi ini,  ia mengatakan hujan adalah kekasih buat para penyair ,mengingatkan luka atau malah meneduhkan lara.
Ah cinta.


Senin, 05 September 2016

Krama



Pias pengembala rindu
Berlarian menunggangi senja menghela temali berbentuk angin.

tertarik pada sketsa parasMu
memalingkan pupil sipit ke arah kanan, seakan menanti sesosok pangeran.
Aku menyukai letakMu berlatar sayatan,juga senang krama santunMu.

Bertentang Kemarin kau melempar pigura jenaka, nampak pupil redup dan bibir yang manyun, kembali,mengejek terai harapanKu,
sementara diseberang engkau serta sang pangeran menikmati  seduhan kopi diteras caffee.

angin sore yang jahat mengingatkanku akan lelaki kecil yang bermain,
tanpa lesu menarik ulur layang-layang.
Hingga Temali putus beterbangan.


Sabtu, 03 September 2016

Mohon

Keheningan subuh mengelabui sisa kabut di awal hari, serupa kita  bagai tetesan embun yang tak usai

semalam suntuk hanya menumpangi  rintisan masa lalu,menatapi tabir pembatasan kamar,hingga nampak  siluet kita terpampang nyata di wajah dinding.

tahun kedelapan aku mengingatMu,    memikirkan seekor pinguin yang tersesat di padang berpasir,tanpa angin serta tanpa sayap.

Teringat saat kita saling menatap,menertawai pohon bercorak awan, jua mewarnai sore.

dentungan sipit manjaMu,yang membangunkanku saat hendak ke sekolah,yang mengingatkanku membawa topi juga dasi.
Kau adalah arti dari bangku kosong  masa laluku.

Aku hanya meminta "kita",
Bukan memohonMu tuk kembali


Kamis, 01 September 2016

Bilama

sehabis senja,kelap-kelip bahagia, merelakan jingga telah berganti, menjadi redup yang gulita,
Kunang-kunang,
malam dan pelita
Tetapi Wanitaku jauh lebih indah
Aku menyukai piguranya memeluk kerel,
berbunga latar tenda segitiga,jua kerudung merah muda
Ia Tersenyum sipuh, melirik malu  tampak pupil sipitnya,
bagiku ia rembulan yang sempurna.


 kita perwujudan malam kunang-kunang,aku ibarat langit , sedang engkau ibarat titik cahayanya.
Sekali lagi
kita ketidakcocokan yang sempurna.
Berbahagialah






Selasa, 30 Agustus 2016

Selagi





Kini  langit tak  bergincu  jingga,
Kembali senyap,situasi gelap seketika.
Semalaman  demi  notifikasi ret-tweet jemariMu, Aku rela menanggahkan adukan jasmin menggantinya dengan kardus berisi gantungan kunci berbentuk palu,
Yang turut aku pandangi  hingga rintik air mata menambah asin teh di cawanku,

Kini akunMu Telah berbentuk gembok sebagai tanda privasi  penyambung terima kasih.

Apakah salah.? 
berharap kepulangan asap ke tempatnya  berkobar,
engKau malah  mengibasnya  menjauh dari arah angin.

setia memandangi senja dalam bingkai jendela, MencintaiMu diam-diam,walaupun sekarang kau serupa dulu
hilang tanpa kabar

Buatmu, tulisanku sebagai pemberat mata,penuntun memeluk guling.
mata sipit yang salah,
puisiku adalah selimut yang menidurkanMu bersama rasa bersalah.
Berbahagialah.


Senin, 29 Agustus 2016

Ajak aku ke prau



anak merpati mencari bulu induknya di antara bulu burung bangau, begitu pula Aku tak tahu perihal negeri prau.

TempatMu kemarin mematok  tenda, di penghujung minggu bekerja,
Kata orang, prau rumah mentari pagi  terbaik di jawa
Indahnya, melebihi Bukit seasia tenggara

Imajiku bergejolak  membayangkan sipitMu yang berlatarkan sunrise prau,
Aku berhasrat menuangkan teh hangat di cangkir genggamanMu
Menatap penuh arti menyaksikan embun sebelum ia sempat mengering,
menghilang.
Aku membacakan pujian melankolis tanpa jeda
hingga kita memandangi matahari terbit seutuhnya

Teruslah mengingatkanKu tentang prau,
Sebab kau dan bukit itu,
dua keindahan yang membuatKu menggigit bibir bawah.


Sabtu, 27 Agustus 2016

Tepi senja



Aku  bermimpi  mata itu menyambutku sebelum pagi,
Karena, pupil sipitMu selalu membacakanku
larik-larik puisi sebelum embun,

tahun- tahun yang silam, kita tak pernah selaras ibarat melodi rintik hujan yang  berbeda di tiap genteng,
Aku sastrawan sosial,kau saintis IPA,Aku suka menggenggam kacu pramuka, engkau sibuk merakit tandu PMR,
Aku berkulit langsat ,sedangkan engkau seputih bunga kapas.
letakMu di seberang kompas , sedang aku menetap di sangkar pertama kita bersua,
Lembayung ?
jua Adat menikmati waktu di penghujung minggu  kita tak sama
  engkau mendaki puncak mahameru, sesampainya kemudian larut dengan pasak-pasak api unggun,
Sedangkan aku lebih memilih ke perpustakaan di pertigaan jalan
bergelut dengan milyaran diksi,prosa juga novel romansa masa lalu,
cerita yang sangat berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama,
ibarat dua arus  jernih yang bermuara di tepian senja sore nanti.


Jumat, 26 Agustus 2016

125 ke arah barat

Apa gunanya detik jam di lengan sebelah kananKu bergerak cepat?
Jika sedih dan bahagia datang sangat terlambat .
125 km ke arah barat ,
Di perjalanan tadi, pupil mataku benar menengok ke arah depan,
Tetapi pikiranku menghadap ke lampu belakang seakan ia mencari  sisah-sisah air mata yang tertinggal,
jauh di tempat saat pertama kali asap motorku bersuara,memecah subuh  turut mengembalikan  angin malam ke lautan berganti hawa sejuk ranting pepohonan,
Lihatlah,aku menyukai perjalananKu kali ini.
Sewaktu tiba di kota sebelah,
Tersebar kabar,ada sesosok lelaki terbunuh,
bukan lantaran  kopi sianida,
tetapi terkapar akibat tegukan teh berlarutkan air mata,
engKau pelakunya.


Kamis, 25 Agustus 2016

Lembayung

aku selalu menginginkan  Perbincangan kita di saat minggu,
Silih berganti mengirim pesan lewat aplikasi kicauan burung,
Menyatukan banyak hari selama kita saling merindui,
MenurutMu mungkin aku terlalu egois menggunakan kata "kita" dalam tiap prosa yang aku lukis,
Sangat ego, memakai inisial namaMu di tiap judul puisiKu,
terlalu lancang mengukir  inisial huruf namaMu di batu nisan kebahagiaanKu.
Aku  tahu diri ,aku tidak setabah hujan di bulan juni
Aku hanya bentukan prosa kosong yang berisi sajak-sajak patah hati,
Lembayung ?
Aku selalu menanti kepulanganMu
Masih di tempat yang sama,
di tenda Merah muda
di bawah senja.


Selasa, 23 Agustus 2016

08.07



Kau tanyakan akhir pekanKu seperti apa?
Serupa pagi  kemarin, hanya sibuk merangkai sobekan ingatan yang berhamburan, turut berpacu memungutinya ,sebelum tertutup bias matahari pukul 08.07.
Sementara di teras rumahku,dengan iringan suara gesekan di atas cangkir, aku berbincang dengan handphone berlatar mata sipitMu ,
Ia bertutur begitu ramah, bagai reporter televisi pagi.
pukul 08.07 menyiapkan jamuan pesta minum teh,dengan kudapan surat kabar edisi tujuh tahun silam, sekiranya kau sudi menghadiri.
Tetapi aku salah,
Kau lebih memilih meneguk jus wortel kesukaanMu sembari memandangi indahnya bukit kelinci di pelosok mimpiKu.


Minggu, 21 Agustus 2016

tutur BagianKu

birunya Langit  mengembalikan perbincangan yang tertunda,
Perihal Pesan Si wanita sipit beralis dawai romansa,
Ia Seketika menyapaku penuh  rasa,
Di buatnya aku merasakan adrenalin kincir raksasa,
Aku Ibaratkan seekor anak kucing lugu jua tak berdaya, ketika mengecap tiap inci kalimat  yang ia hidangkan.
Seketika bermunculan ribuan tanda tanya,
Di mana ia bersembunyi selama ini,di pelataran kota,
ataukah di kutub utara?
Aku ragu menanyakan ke mana perginya  serpihan cinta yang tersapu air mata,saat nama kami ada pada panah chupid,

Atau,ini hanya mimpi dari  kejujuranku.
Tengah hari tadi aku bercerita
Tentang bentuk Awan yang menyerupai lilin parafin putih,   turut meninggalkan bekas tetesanNya di atas langit.
Aku yakin itu dia
jelma'an awan berbentuk lilin,yang selalu aku pandangi,
sedang aku selamanya menjadi langit berisikan jejak-jejaknya.
Engkau menanyakan  apakah ada yang lebih tangguh dari kalimat terima kasih ?

Berlapang dada
Gumamku.


Kamis, 18 Agustus 2016

denting Jam dinding

berparas kayu
Bilik lintar dua belas waktu
Jarum menitnya terbuat dari serat  berwarna perunggu,ia tanpa lelah mengarungi lingkaran samudra ibarat pinisi nan terus berlayar ke arah kanan matahari tanpa butuh hembusan angin.
dari letak jam dinding, aku  berharap dapat mengembalikan waktu,
Kembali,
saat cahaya kunang-kunang menerangi jalan-jalan,bukan lampu sorot kendaraan
Kembali,
ketika rerumputan adalah tempatku berbaur bukan kursi beton yang berhias ukiran rumput.
Denting jam dinding
Kembalikan aku saat jatuh cinta tuk pertama kali.


Minggu, 14 Agustus 2016

Liontin kunci



"KesalahanKu membuatmu jauh, tetapi segala hal tentangku simpanlah di atas loteng
jangan membuangnya, karena niatku memberi hanya untukMu. "
sepenggal pesan yang kau sematkan tujuh tahun lalu,
Mengapa? kembali,
tersirat dari rongga langit,
mengoyak hingga menelan dadaKu.  Sayang,aku mengingatnya lagi,
dan lagi.,
Aku telah melupakanMu jauh sebelum aku terlahir,
rasa benciku  sesubur ilalang di pesawahan,
terus menumbuh tetapi menjadikan sawah landai serta semakin hijau

  Segala hal tentangMu
Aku tak menyimpannya di loteng , aku tidak ingin kenangan  itu, berdebu turut berbau bangkai tikus,
tetapi,
telah aku  jadikan hiasan kunci, sebagai pengingat sesosok wanita yang membuatku sesakit ini.


Selasa, 09 Agustus 2016

Perihal lahir

Langit  lengkapi gelak tawa
Seisi ruang basah karena rintik bahagia,
Ibarat selongsong senapan  berpeluru tima,
Tarik pelatuknya,dik
Pecahkan sepiMu malam ini,
Luapkan rasa girang seakan  mampu mengaliri derasnya sungai gangga.
Selagi senja belum terbit,
Kenanglah tepuk berima menyambutMu
Kita bergiliran mengisi cangkir-cangkir kesuksesan
tanpa menumpahkan buih  kedengkian.
Tiup lilinMu
Mengalir do'a jingga untukMu.







 


Senin, 08 Agustus 2016

Jeluk ramai bait 2



Merebah  di lapang berumput sembari Meneropong Layang-layang yang asyik menunggangi awan,
Ada Belacak rahasia dari sisi  nyaman ini,
Aku sangat takjub dengan simbol kesendirian sambil menekuk lengan di ruang hijau,
Aku tak  sejenis  manusia  yang  meneguk cangkir demi cangkir  perbincangan, hingga mereka mabuk keramaian.
Sebut saja, aku pengagum sunyi,
Turut bermimpi menikmati  tua dalam rumah kura-kura,
Tiap senja bermukim  di kursi goyang, sembari menatap ayunan dahan pohon juga nyanyian pipit .


Pawana

Tirai redup bercorak bintang, 
Pawana kecil berlalu lalang,
Ia berbisik, pula menyiapkan telinga
Di tantangnya aku bercerita senja
Alkisah keindahan petang berwarna jingga telah ku dendangkan,
tetapi ia Hanya menekuk muka kusam segalak  ayunan kapak
Pawana terbitkan pesanKu,
kemudian Sangkut di jendela kamarnya.



Pawana - pawana
Aku rindu aroma rambutnya

Pawana-pawana
Senandungkan kisah bijaksanaKu 

Pawana-pawana
Pundakku  tetaplah miliknya.






Rabu, 27 Juli 2016

Entah?

langit, bagiku ibarat sebuah buku
yang terus berjudul tanda seru
Tebal halaman kiranya cuma penulisnya yang tahu
Apakah ada bait-bait  romansa? entahlah.

Langit malam,
serupa puisi tanpa tanda baca
hanya prosa yang bertutur manja
"Kita bersua selamanya"
gumam sang pemuja,
Entahlah.

Mampirlah,
di teras rumahku, esok
Kita bertukar cangkir teh
Lalu membaca langit pagi
Apakah ada novel atau puisi ? 
Entahlah.


Selasa, 12 Juli 2016

Terhulu alusinasi

Sang malam bertandang  dengan baju sirahnya,sembari menenteng tameng Beraut muka riang,
Sedikit sadar lututku bertekuk di hadapannya,
seraya menggenggam sehelai tenunan putih.
Dengan Tatapan hampa, ia seakan  tancapkan tombak tepat di dada sebelah kanan,
Mendatangkan patah hati sesakit ini
Membuat ketabahan mengalir ibaratkan ember penuh cat merah yang tumpah
Menggerek bendera setengah tiang
Untuk impianku yang telah punah.
Aku hanya butuh wadah,untuk  cendra mata berbentuk  kecewa.




Kamis, 07 Juli 2016

ResoNansi

ada Banyak aksara di pojokan kamar,tetapi  mengapa aku  gemar kesunyian, bergelimang gelap serta mabuk akan musik melankolis.
Waktu antara pagi dan petang aku masih Turut dalam gelak  tawa,
Terbahak sampai perutku mendengung kencang.
Kemudian  takdir mengenalkanku  kepada seorang berparas ayu,wajahnya oval berselimutkan buih-buih hujan,berteduhkan awan di bulan juni,aku yakin sifatnya juga seanggun senja petang nanti,
Cukup, aku telah  jatuh cinta  
Tanpa ada kata tetapi.


Minggu, 03 Juli 2016

Jeluk ramai





Di jeluk ramai.
Aku Memilih menatap dedaunan di bandingkan secangkir minuman dingin,
sebab daun selalu beraroma hening,
obatku Menghilangkan dahaga batin.
Aku pinta dahan-dahan bercabang ,bukan kursi sofa bermotif perangai,
Karena lebih nikmat buatku bercerita dengan burung kecil,di bandingkan bercengkrama dengan banyak manusia.
Aku bukanlah pembenci ramai
Aku hanya pencari sunyi.









Rabu, 15 Juni 2016

Intervalsi

Siang,
Sebagai lelaki pemujaMu
Yang Berisi dedaunan kering berwarna keriput siput, hawanya gerah  merobek kemeja biru sang langit
Siang,
Merekah tanah yang retak
Meniupkan sedikit rindu di selanya
juga, Menyelipkan selembar surat cinta
Siang,
Meresapkan sisah-sisah embun kala subuh,menaburkan rintik-rintik air mata rindu.
Siang,
tatapan piluh nan kosong, awan ibarat payung berupa gumpalan air mata penyesalan.
Siang,
WaktuMu terlelap dari interval rutinitas pagi
WaktuKu terjaga sebagai ucapan terima kasih.
Berbahagialah.


Selasa, 14 Juni 2016

Tiap detiknya


hanya Sebulan tiap detiknya  beterbangan.
Mengukir aksara dalam gelas berisi rona air mata, tanpa gula pemanis sedikitpun.
70 prosa bergantungan
Laksana gorden di buku catatanku, menghias jendela puisiku
menjadikan kata kian menarik lembar perlembarnya.
6 tahun,yang lalu
ketika cinta masih sosok maha indah,
kita bersua di balik kakunya putih abu-abu,
kita bertukar kata tentang bagaimana  bentuk awan kala malam,
Apakah bintang terlelap saat jangkrik berkumandang?
Bagaimana senyuman rembulan saat siang?  
atau bagaimana rasa sakit koral ketika terkena tamparan ombak ?
tetapi favoritku saat kita saling menatap dalam hening,
kemudian angin kemarau datang  menghembuskan syair-syair romantisnya.
Berbahagialah


Kamis, 09 Juni 2016

Aksalukis

Sayup daun-daun hujan
Menyentuh rona langit
rindu,bagaikan anak kecil
memanjatnya ke pucuk tertinggi

Aku memulainya saat  kanvas aksara menyentuh buih-buih rintik subuh,.
Lukisan puitis tercipta
Adalah senyumanMu bagai warna jingga dalam lukisanku
TubuhMu ibarat warna cokelat tanah.
Mengapa jingga dan tanah?? 
Karena tiap detik aku menanti senja
Tanah,karena aku ingin kau menopangKu tiap masa.


Selasa, 31 Mei 2016

04.43

Rintik kala Subuh
Langit masih lelap ketika ayam jantanku berkokok,
Suaranya bergema menyisir kamarku nan selalu gelap.
Gelap akan cercah  embun
Juga gulita tentang keramaian,
Selaku kamar, mungkin ia heran melihatku bergelut tulisan juga kertas  saat matahari belum sepenuhnya membuka mata.
Apakah aku mampu memeluk guling saat dekapanku masih milikMu
Yang aku tahu bias kali ini
MenatapKu tajam dari fentilasi.

Foto-fotoMu yang aku rawat dalam handphone masih tertidur manja,
tanpa jeda aku selalu memandangnya saat terlelap maupun terjaga,
Subuh
RinduKu masih ibaratkan buih air saat mendidih,
Subuh,
embun di lautan rumbut
Meneduhkan langit malam
Menyambut jemari matahari
menyematkan cincin bercahaya
Subuh,
saat sunyi aku menyelipkan do'a untuk ingatan bersua,selalu


Minggu, 29 Mei 2016

Pelamun langit

Langit,
Tinggalkan aku
penuh CINTA.
Langit,
Ku peluk lunta sang Senja
Lalu tunduk ke kaki awan.
Langit,
dengan ribuan luka-luka
Yang  berjudulkan aku dan wanita
Tetapi Berakhir penuh tanda tanya.
 langit,
mengapa aku merana ?
   aku hanya pinta arti kolosal setia.
Langit,
Aku pemuja senja saat air mata jatuh bagai sayap capung yang patah.




   


Kolak dan pigura

Minggu di tepi tinta
Meramu baris
Tanpa spasi tanpa kata, cerita dalam kurungan pigura

hanya ingatan saat ramadhan.
Di telaga magrib ,
aku berdiri tanpa malu di teras rumahmu,
Sayup, kerudung merah juga sandal berpita bunga,
CantikMu adinda

aku hanya menggigit bibir bawahKu memandang keindahanMu.
 kau melambai
jalan pelan-pelan sambil menatapku penuh rindu
sambil menenteng kolak yang sengaja kau sisahkan untukKu.
Kita berbincang bagai sepasang kupu-kupu bermain di taman asmara.
nyata cinta di malam ramadhan
aku takjub penuh harapan
Mengingat lagi cerita 
Entah,akankah masih terulang

Hanya pigura
Gadis dalam kurungan lukisan
  daun dalam iringan awan 
Cantiknya rindu tertahan
Kemudian aku  terjang malu,
HatiKu bertanya ?
mengapa daun harus hijau
walau bunga bebas memilih warna
Mengapa  aku harus malu ?
Karena cantikMu membuatku lupa


Rabu, 25 Mei 2016

masih


syair Jangkrik berdendang
mengiringi malam bernyanyi
rindu datang  mengelitik
Saat KITA berjalan bagai sepasang anak itik
Dik,
tanpa judul puisiKu,
Ketika garis putus-putus,
KITA menyatukanya menjadi garis horisontal
Aku mengenalMu  sangat jauh
Hingga aku lupa cara  kembali


Aku meminangMu tiap detik dalam lingkaran jam, namaMu sebagai porosnya, abadi sebagai cinta pertamaKu.


Kamis, 12 Mei 2016

Cenayang

Rumput menadah diri
jumawa Memikul padi
Air mengalirkan sari-sari
Rona rindu kian terpatri

Kicau rembulan bersayup-sayup, berganti ingatkan suasana hingar kerinduan.
ribuan walet mengudara beriringan, kotorannya jatuh di loby utama, bangunan megah yang terikat pada langit,
Kaca paling atas, adalah sang janji terpasung meminta pertemuan
Aku tak mampu meminang rinduMu yang megah,
  laksana gedung  berbingkai,
aku hanya rumput di kala kemarau
Dengan kaki tertusuk duri-duri
dulu Hijau,berubah warna legam berdaki
Tubuh semampai harus hangus berapi
Tetapi kini,aku bahagia dapatkan rinduMu kembali






Selasa, 03 Mei 2016

Kisah luka

Corak senja genapkan tatapanMu
kerudung merah  terhuyung oleh ayunan sore penuh tanda tanya,
Kita yang dulu bertutur santun
Bersapa manja
Bergandengan mesra
Di mana kita yang lalu ?
Apakah menjelma robekan kusam?
TatapanMu bertanya di mana aku selama ini,
Gumamku ;
Aku di bawah awan, merasakan bayangan langit,menikung dedaunan  lajuh melambai kemudian jatuh di lumpur cokelat berkeringatkan kerbau.








Kamis, 28 April 2016

Ia


jendela berpigura kayu
berlukiskan ukiran layu
Malam sedang berpangku
aku Memeluk guling dalam rayuan malu, ia terus berbaring dalam  kebosanan.
di tepian kamar, menghalau sunyi dengan pena bertinta biru,tanpa sadar jemariku menuliskan kapital "RINDU"
Ia memulihkan ingatan dalam bait sang purnama, saat malam bergelantung, menusuk kejam di pelipisKu,
ibarat belati merah berderah,
puisi,  memulihkan segalanya, tentang ras manusia hingga keresahan semut di gedung berlantai langit.
Bagai spasi di tiap puisi
Tempat menghala nafas, saat aku melafalkan kapital "RINDU"


Selasa, 12 April 2016

Serambi




dekap malam,  jangkrik sesekali terdengar, menikung jua kicauan anak ayam,terdengar bagai alunan syair.
di kamarku,
Aku bagai angin
Mengharapkan rasa  ingin
Tetapi malah membawakanKu sebuah cermin
selasa Malam ,di binar halamanKu
Bias cahayanya  ibarat payung, meneduhkan kerinduan.
Kekasih, menetaplah dalam iringannya
merebah bersama mimpi pertemuan
Di kala malam mewujudkan
Kerinduan


Selasa, 05 April 2016

Hujani hujan

meraba langit menerkah tiap tetesanya apa namaMu yang  tersirat di dalamnya, kemudian  jatuh? 
Lemah jemariku untuk mengungkap sebuah ingatan, tentang perih, derita ataupun takdir.
Langit, jauh di atas puncak tanpa sedikitpun menoleh ke arahKu,
sedikit lirikan?? 
aku hanya lelucon di tengah hujan
Laksana pelaut tanpa kapal, ibarat petani tanpa ladang,perindu tanpa tahu kapan harus bertemu
Hanya jemari yang ku punya
Tanpa cincin  permata
Atau mobil berplat kaca
Dengarlah rintiknya malam ini dinda
Mengacuhkan suara malam, penikmat kopi pasti suka suasana nyaman ini, begitu pula remaja  menikmati kecupan kekasihnya di tengah hujan.
Caraku menikmati hujan hanya berbaring terbalik mengarah kasur sambil jemariku  menekan pena.
Bercerita tentang masa lalu ataupun kejadian mengagumi paras wanita, itu saja.  Tanpa ada perasaan membahas hari esok.
Hujani aku,hujan
Bersama melewati batas langit
Berlindung di tiap buih
Tetesan bergelimang rindu
Garap fikiranKu seperti sungai yang meluap karena rintikMu
tetapi Jangan hempas aku bersama petir saat lebatMu,
Aku adalah hujan di kala malam
tertutup gelap,
menyembunyikan gelak petir  berlarian di atas atap
Lalu berjatuhan di tepian taman,
itu aku
Awetkan tidurMu,
nyenyak dalam cintanya
hujan di kala malam
buatMu tertidur
Saat aku masih merapikan ingatanku.



Sabtu, 26 Maret 2016

01.50 wita

            
Di sisi malam
Berselimut iringan daun
Kertas juga percikan tinta
aku memujaMu lewat puisi
Di langit siang
Suasana hingar di depan rumah
Anak kecil berlalu ibarat  semut,sembari menikmati kenyataan,bahwa  aku tidaklah berkutik di paras kerudungMu,
kulitMu putih nan indah,
wajahMu cantik nan jelita,
senyumanMu hangat bak lentera
di hadapanMu
aku laksana pena tanpa tinta, berbentuk tetapi tidak berguna, hidup tetapi terluka.
Di malamKu
aku berbaring di hadapan  jam kertas
jarum kecilnya  selalu menghinaKu, mengapa lembah begitu sunyi, ketika sang ratu menoleh di balik  kerudungnya .
Di pukul 01.50 WITA
Aku menatap langit
Sebab senja tetaplah terbit walaupun itu lusa,
aku berharap
Untuk
awan berbentuk cinta
Di balik malam yang gulita



Rabu, 23 Maret 2016

Rindang

rintiknya bening merayu senja
bersua dengan suara gemerincik
Hujan
aku berharap tetesanMu tabir dari  langit tuk  mengikat rindu
Juah dari air mata temu
Hujan
Aku rindu melodi rintiknya
Aku rindu  rumbut menyambutMu
Hujan
aku berharap rinduKu menepi mendengarkan alunan rintikMu bagai kendaraan roda dua di jalan raya
Hujan
Aku menanti untuk menangkap rindu ibarat cicak dan mangsanya
Hujan
BuatKan aku langit penuh bintang, buatkan  rintikMu  menggelantung di hadapanku nan bias wajah kekasihku di dalamnya
Hujan
Aku merindu
Dalam tiap tetesanMu
Hujan
Aku butuh pelangi
Sebagai penutup untuk rinduKu


Rabu, 16 Maret 2016

Rana

Rindu nan mati
akan hancur bersama ketenangan yang abadi
sesuai janji
Untuk kembali
mengusik rasa dusta tentang kalimat janji
Aku tenang dalam damai, begitu lah kata yang sering aku dengar, kembali untuk memulai
tetapi  jingga berfikir?
bagaimana cinta  luntur hanya karena rasa egois? 
Rindu yang telah lama aku rawat,hingga hanya menjadi  gula pasir yang tidak larut di nampan kacaku
Jingga tak berarti jika hidup hanya dalam bayang ilalang kebencian, jingga akan sirna oleh garis yang di namakan waktu,
Biarkan saja..  aku melawan arah, kembali ke parit piluh yang penuh dengan janji serapahmu,
Diamlah selagi langit bisa
diamlah dalam damai
Sebaris kata yang aku gores saat ini hanya sebagai bukti bahwa jari yang ku gunakan sebagai ironi dari rasa sakitku
Aku hanya berharap kelak nanti, 
Ribuan sayap merpati akan jatuh di  rambutmu, saat itu tiba aku telah berlari dalam keramaian.serta tak perlu lagi mengingat dusta dan ribuan teka teki bungkam dari mulutmu.
Denting suara sakit makin menggila di otakku , lagi ke mana akan ku lampiaskan ?
akankah aku benturkan  kepalan tangan ke tembok sepi itu, ataukah aku harus mencari cinta dalam senja ?? 
 
Aku tak mengharapkan mawar  yang aku berikan itu kembali,
Aku hanya pinta duri dari ribuan mawar di bumi.

Lekaslah
Biarkan  aku terlelap
Biarkan  aku merasa ramai
Biarkan aku merasa salah
Karena
Senja tetap diam dalam damai


Kamis, 10 Maret 2016

Remah


bisu dalam fisik
Hangat saat sore
Terbenam saat air pasang
Hilang, lalu terbawa hujan
Tangkap cahayanya
Saat riuhnya begitu hening
Di sepinya
Aku di buih dalam letih
          -     Senja     -

Masa saat matahari masih berbentuk sepi,lalu ku rapikan ribuan embun demi melihat pemberianMu
Tertutup pita cokelat, di pinggirnya ada corak bunga
aku masih merasakan nikmatnya suasana cinta
lupa derasnya hujan di teras depan,
aku hikmat dalam pelukan mata sipitMu.
   dekapanMu adalah saatku bahagia,
SayangMu mengalir bagai jernihnya warna senja
Lantas kau memberikanKu kado berpita bunga
lantas ???
aku
hanya gantungan kunci berbentuk rindu
Hadiah dari ingatanku saat itu.


Senin, 07 Maret 2016

terik Camar

Dengarkan camar
Mendendangkan kutipan
puitis buat betina, turut
Menanti di sarang,
Tetapi ia memilih langit,karena rindu membuatnya Merasa hina.

laksana perindu yang memburu pertemuan
tanpa pembatas jarak atau hari,
Fisik yang lelah, begitu pula sore yang menidurkan semangat,
Kembali menghirup langit
Saat.
larut dalam iringan lagu
WaktuKu bertukar dengan setapak
Aku memberinya debu,
dia memberikan ingatan
aku mengharapkan keringat
dia memberikanku penyesalan
sepeda Jingga nan berlalu, sebab
letak namaMu dalam awan,
Jujur,aku membenci langit saat senja.
Langit tanpa malu menghina perpisahanKu.
Awan tanpa sadar menghina langitKu.,
Awan,langit juga namaMu
korelasi indah buatku jatuhkan air mata.


Rabu, 24 Februari 2016

lalu

Di sana tempatku bertukar
serta bersandarkan pasir,
Lalu kutantang langit untuk  menatap buih tanpa jatuhkan rintiknya
mengingat lagi??
Tepian karang
Mercusuar!! 
menoleh ke sana ke mari
berkedap kedip  berdiri kokoh di tepian pantai, Aku bukan menara tetapi aku adalah pijar di atas puncaknya,
Yang bercahaya paling terang
Menuntun ke tepian karang
Tempat pertemuan dengan orang tersayang
demi lalu  yang tiap senja aku puja, secuil butirnya pun masih terasa ,
Tiap lalu
Aku di depanMu
Tiap waktu
Aku menitMu
Tiap hari
Aku merinduMu
Tiap cerita
aku kalimat penutupMu
Lalu
Aku tidak ingin mengulangnya hanya waktu mengingatkan tentangMu
Lalu
Dengarlah bait kataKu
Lalu demi untukMu
Aku masih menopang rindu


Selasa, 16 Februari 2016

Lokaranda

 lokaranda
Di selatan bukit loka
Aku rindu riuh suasananya
rindang pohon Di antara susunan semilir pasir,
  hamparan awan peneduh laksana ombak
Tempatku memulai cerita
Bukit loka nan jernih, liung bagai angsa putih
Kebun berbaris ibarat pelangi
Gerbang kota riuh melambai,
Di selatan tempatku
tuan
Teduh rindu tak terhingga
Kampungku
Tuan???
Malamnya indah
Tuan???
Sorenya jingga
Tuan !!!!
Mahkota jingga di ujung senja
Ikan melompat bagai ilalang
Rumput di mana mata memandang
Bantaeng indah tuan
Bantaeng nan pasti di kenang.


Kamis, 11 Februari 2016

Pinta

Pinta 
tentang rintik sore
Terlalu indah
terhanyut dalam butir airnya, menyepi di  sinar senja
menatap jingga
februari bulan pencinta hujan
jatuh laksana skripsi serta berbagai bentuk hilirnya
Di mana hariku hanya untuk memuja sejuknya awan serasi dengan tiap janji pertemuan
Aku masih di titik yang sama
Di bawah hujan, tanpa payung
Hanya
Lembaran kertas
Laraskanlah dinda antara aku dan hujan??
Aku takkan lagi menulis huruf di kertas
Aku lebih memilih menjadikanya pesawat dengan huruf namaMu sebagai juru mudinya
ku sasar langit kemudian 
terbanglah
menyelinap sepinya lampu taman.








Jumat, 05 Februari 2016

Laras

Di balik cermin
sepi itu datang
Di balik cermin
Tertindik perih tanpa sekali pun menyapa,
Di balik cermin
Ku bungkam kisah saat terbawa suasana sekolah
Di balik cermin
Loteng yang selalu ku tatap
Meja kayu tempatku berpangku tangan.
    Laras itulah namaMu kini, saat ingatan ku masih terbawa  senja,
di jalan tadi,mungkin imaji ku saja, tetapi tak hentinya hanya wajahmu yang terbayang, ikutlah
ku harap lesung laras masih di sana menoleh dari balik jaket,ingat kisah kita ???dan ribuan rintik air ketika aku adalah payung dan kau berlindung di dalamnya.
Cermin lihatlah aku masih dalam laras. Aku masih tetap menanti hingga jingga sunyi di balik senja.


Kamis, 28 Januari 2016

Sela

Di sela waktu
Aku mengingat
Pasir bergerak di antara buih serta jejak penyu, di kala awan peneduhnya
tenang nan diam
Hanya karang di sela jemariKu
Tunduk tak bernyawa
aku paham tatapanya, hujan pun redah sore itu.
Senja terbit tanpa permisi
Senja jatuh dengan sinar jingga
Aku..  yakin menulis namaMu dengan huruf kapital di pasir kering
Tetapi, air pasang tanpa sadar menyikap tulisanku.
yang tertinggal hanya kata "sayang"
Aku lupa kalimat pertamanya..
Aku hanya ingat kata "sayang" .
Biar saja menjadi urusan pasir untuk mengingatkanKu
Yang aku tahu aku mengukir kata"sayang".
Meskipun tak ada satu bukti tentangnya.


Senin, 11 Januari 2016

Lara


Masih memuja luka
Abaikan saja kata  cinta
Perih masih terasa
Tanpa sadar, aku bahagia
    Sakit itulah kata pedih yang hadir di tiap langkahku, melihat beruang madu yang sedang beradu asmara,aku iri???? Tidak,jawabku,. Coba  lihat kancil jantan di ujung pohon, sendiri mengais makan, bahagia dia ,gumamku,
seminggu lagi waktu untuk lalui jalan terjal di bukit itu,
langkah tanpa henti, sudahlah aku menolak memuja senja atau cinta. Aku mampu berjalan di atas langit,tanpa perlu melewati terjalnya setapak , jujur aku merasa hina, jijik dengan tingkahku yang tertawa lepas.,tetapi aku tetap penikmat teh, yang di tiap pinggir gelasnya turut hadir cinta yang berkerumun bagai semut.
Aku masih yakin
Aku masih hidup
Sekamar dengan selimut,
Yang memeluk tanpa harus berharap.