Minggu, 21 Agustus 2016

tutur BagianKu

birunya Langit  mengembalikan perbincangan yang tertunda,
Perihal Pesan Si wanita sipit beralis dawai romansa,
Ia Seketika menyapaku penuh  rasa,
Di buatnya aku merasakan adrenalin kincir raksasa,
Aku Ibaratkan seekor anak kucing lugu jua tak berdaya, ketika mengecap tiap inci kalimat  yang ia hidangkan.
Seketika bermunculan ribuan tanda tanya,
Di mana ia bersembunyi selama ini,di pelataran kota,
ataukah di kutub utara?
Aku ragu menanyakan ke mana perginya  serpihan cinta yang tersapu air mata,saat nama kami ada pada panah chupid,

Atau,ini hanya mimpi dari  kejujuranku.
Tengah hari tadi aku bercerita
Tentang bentuk Awan yang menyerupai lilin parafin putih,   turut meninggalkan bekas tetesanNya di atas langit.
Aku yakin itu dia
jelma'an awan berbentuk lilin,yang selalu aku pandangi,
sedang aku selamanya menjadi langit berisikan jejak-jejaknya.
Engkau menanyakan  apakah ada yang lebih tangguh dari kalimat terima kasih ?

Berlapang dada
Gumamku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar