Jumat, 16 September 2016

.Senja 17.56

Perihal jingga
Yang mengingatkanku kisah gantungan kunci,
Pena mengartikannya menjadi prosa patah hati.
  MengingatMu awalan ritualku memulai senja, laksana lembaran kertas yang menggulung ditiup  hembusan.
Beringat pupil sipitMu yang berkedip tiap kali aku bertingkah konyol,terkekek kecil sembari sesekali memandangiku penuh harap.
mengingat kembali resonan pita suaraMu saat melafalkan kapital namaku,
masih terngiang Warna putih yang kau sebut itu tanda jodoh,ketika kita tanpa sengaja mengenakan baju berwarna sama tanpa rencana sebelumnya.

Masih terbersik wangi harum di pundak sebelah kananKu saat kita saling bertatap malam, tanpa  hiburan, yang ada hanya kita,bintang, jua kerikil berserakan, 

diteras rumahMu waktu itu, aku ibarat lelaki paling rupawan,memiliki permaisuri cantik tanpa dandanan.

Aku memanggilMu sebelum langit berkecamuk hitam,
Senja, aku setia  menantinya,  sematkanlah bersama lamunanku petang ini,
Menjadikannya lengkung penuh tanda tanya.
maaf, Aku masih mengingatMu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar