Perihal jingga
Yang mengingatkanku kisah gantungan kunci,
Pena mengartikannya menjadi prosa patah hati.
MengingatMu awalan ritualku memulai senja, laksana lembaran kertas yang menggulung ditiup hembusan.
Beringat pupil sipitMu yang berkedip tiap kali aku bertingkah konyol,terkekek kecil sembari sesekali memandangiku penuh harap.
mengingat kembali resonan pita suaraMu saat melafalkan kapital namaku,
masih terngiang Warna putih yang kau sebut itu tanda jodoh,ketika kita tanpa sengaja mengenakan baju berwarna sama tanpa rencana sebelumnya.
Masih terbersik wangi harum di pundak sebelah kananKu saat kita saling bertatap malam, tanpa hiburan, yang ada hanya kita,bintang, jua kerikil berserakan,
diteras rumahMu waktu itu, aku ibarat lelaki paling rupawan,memiliki permaisuri cantik tanpa dandanan.
Aku memanggilMu sebelum langit berkecamuk hitam,
Senja, aku setia menantinya, sematkanlah bersama lamunanku petang ini,
Menjadikannya lengkung penuh tanda tanya.
maaf, Aku masih mengingatMu.
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Jumat, 16 September 2016
.Senja 17.56
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar