jendela berpigura kayu
berlukiskan ukiran layu
Malam sedang berpangku
aku Memeluk guling dalam rayuan malu, ia terus berbaring dalam kebosanan.
di tepian kamar, menghalau sunyi dengan pena bertinta biru,tanpa sadar jemariku menuliskan kapital "RINDU"
Ia memulihkan ingatan dalam bait sang purnama, saat malam bergelantung, menusuk kejam di pelipisKu,
ibarat belati merah berderah,
puisi, memulihkan segalanya, tentang ras manusia hingga keresahan semut di gedung berlantai langit.
Bagai spasi di tiap puisi
Tempat menghala nafas, saat aku melafalkan kapital "RINDU"
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Kamis, 28 April 2016
Ia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar