Kamis, 28 April 2016

Ia


jendela berpigura kayu
berlukiskan ukiran layu
Malam sedang berpangku
aku Memeluk guling dalam rayuan malu, ia terus berbaring dalam  kebosanan.
di tepian kamar, menghalau sunyi dengan pena bertinta biru,tanpa sadar jemariku menuliskan kapital "RINDU"
Ia memulihkan ingatan dalam bait sang purnama, saat malam bergelantung, menusuk kejam di pelipisKu,
ibarat belati merah berderah,
puisi,  memulihkan segalanya, tentang ras manusia hingga keresahan semut di gedung berlantai langit.
Bagai spasi di tiap puisi
Tempat menghala nafas, saat aku melafalkan kapital "RINDU"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar