Minggu, 18 September 2016

legiku

Elegi mengarai malam
Meratapi tutur sewaktu fajar,
serupa cangkir tanpa ampas,
hampa.

Aku menolak melupakan,
Menyalahgunakan tiap jengkal ingatanku, menodai peringai "rindu".

Ikrarku melepasMu,
Tuk kesekian kalinya, aku tak sanggup,
WajahMu selalu buatku gugup
Tak mampu berlapang dada.
Hanya menerima takdir sembari menepuk dada,saat kita,
tak mungkin (lagi) bersama.

bagai anak kucing yang tertidur pulas, aku ingin membelai sipit polosMu meski hanya sebatas analogi.

Perlu jatuh tuk mengenal cinta,
Butuh patah hati sekaligus jatuh cinta tuk  mengungkapnya.
Berbahagialah.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar