Senin, 05 September 2016

Krama



Pias pengembala rindu
Berlarian menunggangi senja menghela temali berbentuk angin.

tertarik pada sketsa parasMu
memalingkan pupil sipit ke arah kanan, seakan menanti sesosok pangeran.
Aku menyukai letakMu berlatar sayatan,juga senang krama santunMu.

Bertentang Kemarin kau melempar pigura jenaka, nampak pupil redup dan bibir yang manyun, kembali,mengejek terai harapanKu,
sementara diseberang engkau serta sang pangeran menikmati  seduhan kopi diteras caffee.

angin sore yang jahat mengingatkanku akan lelaki kecil yang bermain,
tanpa lesu menarik ulur layang-layang.
Hingga Temali putus beterbangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar