Rabu, 16 Maret 2016

Rana

Rindu nan mati
akan hancur bersama ketenangan yang abadi
sesuai janji
Untuk kembali
mengusik rasa dusta tentang kalimat janji
Aku tenang dalam damai, begitu lah kata yang sering aku dengar, kembali untuk memulai
tetapi  jingga berfikir?
bagaimana cinta  luntur hanya karena rasa egois? 
Rindu yang telah lama aku rawat,hingga hanya menjadi  gula pasir yang tidak larut di nampan kacaku
Jingga tak berarti jika hidup hanya dalam bayang ilalang kebencian, jingga akan sirna oleh garis yang di namakan waktu,
Biarkan saja..  aku melawan arah, kembali ke parit piluh yang penuh dengan janji serapahmu,
Diamlah selagi langit bisa
diamlah dalam damai
Sebaris kata yang aku gores saat ini hanya sebagai bukti bahwa jari yang ku gunakan sebagai ironi dari rasa sakitku
Aku hanya berharap kelak nanti, 
Ribuan sayap merpati akan jatuh di  rambutmu, saat itu tiba aku telah berlari dalam keramaian.serta tak perlu lagi mengingat dusta dan ribuan teka teki bungkam dari mulutmu.
Denting suara sakit makin menggila di otakku , lagi ke mana akan ku lampiaskan ?
akankah aku benturkan  kepalan tangan ke tembok sepi itu, ataukah aku harus mencari cinta dalam senja ?? 
 
Aku tak mengharapkan mawar  yang aku berikan itu kembali,
Aku hanya pinta duri dari ribuan mawar di bumi.

Lekaslah
Biarkan  aku terlelap
Biarkan  aku merasa ramai
Biarkan aku merasa salah
Karena
Senja tetap diam dalam damai


Tidak ada komentar:

Posting Komentar