Jumat, 30 September 2016

Rinai di sipitmu

aku rinai yang menatapmu dari ventilasi malam
Memelukmu ibarat kabut
Menidurkanmu bersama bias penyesalan.

aku suka mengingat sipitmu meski itu duka yang membuatku terisak  hujan,
Niscaya membuatmu tertidur saat mendengar deras rintiknya.

aku terjemahkan tiap butir  gerimis,mengingatkanku
derita payung yang kau buka tutup sesuka hatimu.
 


Senin, 26 September 2016

Lembayung bait 3

senja,kian aku nanti
Akan menjelma janur warna warni,
dilamin pernikahanmu Kelak Nanti,
biarkan aku menulis puisi, 
sebagai pengingatku Menanti,
tetaplah Yakini
saat pesta resepsi,
itu tiba banyak prosa patah hati,
yang kan datang bertamu Bagai ribuan bulu merpati,
Engkaulah wanita yang membuatku merasa sesakit ini,
Tetapi Aku tegar menghampiri,
layaknya gerimis september,
Menghujani,
Ranting,
Mengakhiri
Kemarau.



Sabtu, 24 September 2016

juru Langit subuh



Hai ?
Masih ada jejak tanganku di seberang jendelamu ?,
menjelma tetesan embun,sebagai bukti akulah lelaki subuh yang setia  memandangimu terlelap memeluk guling.

Aku juga ibarat puisi yang Menyelinap diantara buku exact di meja samping tempat tidurmu,
Sesekali aku juga menjelma kecoak, turut membuatmu merasa jijik.

Setiba senja, aku laksana dermaga
menanti kepulangan pupil sipitmu dengan iring-iringan parade paling puitis.


Kamis, 22 September 2016

05.46

daun muram dibalik jendela
seakan ia berharap angin tuk menghalaunya hingga ke seberang trotoar.

Selagi jalan raya masih berselimut,
pulanglah, tak seorangpun akan  tahu engkau berkunjung sedini ini.

Aku menikmati pagi sehabis subuh,hanya diberanda kamar, sembari hadirkan ingatan suara lembutmu,aku mengingatnya bagai alunan musik bambu,
menenangkan.

Aku memasang headset
menyetel sheila,
kafilah melankolis favoritku,
Sebagai alasan Pengantar teh hangat ke kerongkonganku,
Seraya duta melantungkan
sephia,
Aku bersama Pagi semenjak ia mulai bercerita.
Menenangkan.





Selasa, 20 September 2016

Bougenville

Kuntum sajak merekah
Semerbak harum mewabah
Wewangian puitis menyeguk,
Mengecup sipitMu diteras bougenville.

seroja diperawakan taman
Indah bak ornamen mahkota
Per-kenanlah aku sematkan dikerudungMu.

Bangku bunga juga pagoda   Memandangi dahan jatuh perlahan,
bersimphoni, dengan rinduku yang kini gugur berserakan.

ingat tentang layu sipitMu,serupa ijuk yang merapikan daun-daun kerinduan ditaman bougenville.





Minggu, 18 September 2016

legiku

Elegi mengarai malam
Meratapi tutur sewaktu fajar,
serupa cangkir tanpa ampas,
hampa.

Aku menolak melupakan,
Menyalahgunakan tiap jengkal ingatanku, menodai peringai "rindu".

Ikrarku melepasMu,
Tuk kesekian kalinya, aku tak sanggup,
WajahMu selalu buatku gugup
Tak mampu berlapang dada.
Hanya menerima takdir sembari menepuk dada,saat kita,
tak mungkin (lagi) bersama.

bagai anak kucing yang tertidur pulas, aku ingin membelai sipit polosMu meski hanya sebatas analogi.

Perlu jatuh tuk mengenal cinta,
Butuh patah hati sekaligus jatuh cinta tuk  mengungkapnya.
Berbahagialah.











Jumat, 16 September 2016

.Senja 17.56

Perihal jingga
Yang mengingatkanku kisah gantungan kunci,
Pena mengartikannya menjadi prosa patah hati.
  MengingatMu awalan ritualku memulai senja, laksana lembaran kertas yang menggulung ditiup  hembusan.
Beringat pupil sipitMu yang berkedip tiap kali aku bertingkah konyol,terkekek kecil sembari sesekali memandangiku penuh harap.
mengingat kembali resonan pita suaraMu saat melafalkan kapital namaku,
masih terngiang Warna putih yang kau sebut itu tanda jodoh,ketika kita tanpa sengaja mengenakan baju berwarna sama tanpa rencana sebelumnya.

Masih terbersik wangi harum di pundak sebelah kananKu saat kita saling bertatap malam, tanpa  hiburan, yang ada hanya kita,bintang, jua kerikil berserakan, 

diteras rumahMu waktu itu, aku ibarat lelaki paling rupawan,memiliki permaisuri cantik tanpa dandanan.

Aku memanggilMu sebelum langit berkecamuk hitam,
Senja, aku setia  menantinya,  sematkanlah bersama lamunanku petang ini,
Menjadikannya lengkung penuh tanda tanya.
maaf, Aku masih mengingatMu.


Rabu, 14 September 2016

kencana



Kencana tak nampak
Aku rindu kerudungnya
Hendak di hujan september
Ia datang menyapa, sekali saja

Kencana pura-pura
Berucap segera pulang
Tuk MelihatKu menatap senja
Memandangku berpuisi

Kencana hulu petang
SenjaNya tuk orang lain
Mengecup dihilir jingga
Menyikapku bagai dosa

Sanna pa'risi kencana
jamuan rintik mata
Engkau pandai beranjak
tunggang angin membawaMu,
Pergi jauh,sekali selamanya


Selasa, 13 September 2016

Trilogi

Roman sipitMu masih seperti yang lalu,sama saat kemeja hitamku  masih bercorak putih abu-abu,
teringat pula  liontin pemberianMu kini menggelantung dikunci motorku, semasih terbungkus pita kado,
Buah bingkisan dariMu saat harlah hari kelahiranku.

Tetaplah seperti angin kemarau yang menyapaku bersama rintik pertama di bulan september,

sekarang, engkau di seberang pulau menikmati lembayung senja dengan lelaki pilihanMu.

Tetapi ingatlah selalu ada sesosok pengagum aneh yang mewarnai   jingga kepergianMu.
Berbahagialah.


Minggu, 11 September 2016

Septa ramai



Puisiku kemarau di awal september
kalimatnya gersang kekurangan curah hujan,
Tiap Kata kepanasan,hingga keringat bertinta merah bercucuran.
melukai bulan kelahiranku.

para penikmat nyala kedip lentera, duduk melingkar di tengah kawanan,mereka menggilir kopi pahit,aku memesan secangkir teh jasmin,plano pelayan menyisihkan musik melankolis kegemaranku,
gertak syairnya

"Kau harus bisa berlapang dada"
" Karena semua tak lagi sama"


kau tahu sayang ?
banyak gelak berhamburan bagai susunan rasi bintang.
Terima kasih ,Sejenak mampu melupakan patah hati,  yang membuatku berpantomin di antara bayang ramai.

Langit,
buih Teh jasmin
Malam yang sempurna.


Jumat, 09 September 2016

Larik-larik



  WajahMu  mematikan senja yang lama aku nantikan,memuramkan nyanyian romantis menjadikannya suara gesekan biola kesedihan.

ibaratkan seekor burung dara yang Mencoba hidup di sangkar rotan buatanMu, kau memberiku makan berupa sayuran layu, dengan sengaja menuang  air keruh berisi  biji nikel ke minumanku, menjadikan kerongkorangan ini sesak tak mengenal rasa, kecuali kersang kesakitan.

Larik-larik berkepaklah
Aku hanya anak burung yang kau sekap di kurungan ingatan masa lalu.



Rabu, 07 September 2016

Lembayung bait 2



"Pagi yang terlalu malam"
hanya serupa pelamun langit, tiap sore mengitari setapak menggeledah tempat tuk bertemu senja, 
mencari wadah menyandarkan punggungku dari rutinitas keseharian,aku suka menatap lembayung jingga yang menghiasi tudung perahu nelayan,ibarat mahkota berhias berlian.
Waktu tepat untuk menyendiri, turut merunungkan bias pembatas,melupakan tumpukan kertas, ataupun tumpahan tinta di kemeja putihku,
Aku menikmati menatapnya dari hilir jalan raya,duduk serong di atas sadel,menghirup udara sebelum ia sempat ke lautan.
Harapanku dik,
engkau  menggenggam lenganku,menyaksikan senja turun perlahan,meski cuma sedetik,hanya ingin memandangi mata sipit  piluhMu,
di latar senja sore ini,
Aku tetap pelamun langit meski dulu kau adalah awan yang memulai hujan di mataku.


Selasa, 06 September 2016

07.32

Apa kabarMu lembayung ?
Bagaimana rutinitasMu?
daun mataMu masih sipit?,
Di mana diriMu yang kemarin?

Hanya kalimat tanya sederhana yang terngiang di benakku bagai suara diengsel pintu

Aku meminta maaf tentang fotoMu,  yang diam-diam aku selipkan di antara tumpukan kertas kerjaanKu,
Bertindak sebagai penyejuk ruangan di meja kerja.

satu lagi, Mengenai rintik pagi ini,  ia mengatakan hujan adalah kekasih buat para penyair ,mengingatkan luka atau malah meneduhkan lara.
Ah cinta.


Senin, 05 September 2016

Krama



Pias pengembala rindu
Berlarian menunggangi senja menghela temali berbentuk angin.

tertarik pada sketsa parasMu
memalingkan pupil sipit ke arah kanan, seakan menanti sesosok pangeran.
Aku menyukai letakMu berlatar sayatan,juga senang krama santunMu.

Bertentang Kemarin kau melempar pigura jenaka, nampak pupil redup dan bibir yang manyun, kembali,mengejek terai harapanKu,
sementara diseberang engkau serta sang pangeran menikmati  seduhan kopi diteras caffee.

angin sore yang jahat mengingatkanku akan lelaki kecil yang bermain,
tanpa lesu menarik ulur layang-layang.
Hingga Temali putus beterbangan.


Sabtu, 03 September 2016

Mohon

Keheningan subuh mengelabui sisa kabut di awal hari, serupa kita  bagai tetesan embun yang tak usai

semalam suntuk hanya menumpangi  rintisan masa lalu,menatapi tabir pembatasan kamar,hingga nampak  siluet kita terpampang nyata di wajah dinding.

tahun kedelapan aku mengingatMu,    memikirkan seekor pinguin yang tersesat di padang berpasir,tanpa angin serta tanpa sayap.

Teringat saat kita saling menatap,menertawai pohon bercorak awan, jua mewarnai sore.

dentungan sipit manjaMu,yang membangunkanku saat hendak ke sekolah,yang mengingatkanku membawa topi juga dasi.
Kau adalah arti dari bangku kosong  masa laluku.

Aku hanya meminta "kita",
Bukan memohonMu tuk kembali


Kamis, 01 September 2016

Bilama

sehabis senja,kelap-kelip bahagia, merelakan jingga telah berganti, menjadi redup yang gulita,
Kunang-kunang,
malam dan pelita
Tetapi Wanitaku jauh lebih indah
Aku menyukai piguranya memeluk kerel,
berbunga latar tenda segitiga,jua kerudung merah muda
Ia Tersenyum sipuh, melirik malu  tampak pupil sipitnya,
bagiku ia rembulan yang sempurna.


 kita perwujudan malam kunang-kunang,aku ibarat langit , sedang engkau ibarat titik cahayanya.
Sekali lagi
kita ketidakcocokan yang sempurna.
Berbahagialah