Jalan mulai lengang, ini artinya goncangan pada roda tlah usai, perutku tak harus lagi berkuat menahan isinya, saya khawatir jika tak sanggup menahan ledakan merapi, lahar kecoklatan pasti akan keluar dari lorong kerongkongan,
Saya tak bisa membayangkan apalagi menuliskan jika itu benar terjadi,
untunglah jalan mulai tentram, menghela napas kemudian menyimpan kembali kantung kresek yang saya sembunyikan di dalam sweter,
dari balik kaca, petang kelihatan menggigil, ditiap sisinya hitam menyelimuti serupa kelambu raksasa yang menutupi angkasa,
awan tak lagi berwarna kapas,kini ia menjelma seekor kerbau jantan yang siap menanduk,
"Awan terkadang memusuhi siapa saja , tak menanyakan mengapa, tiba-tiba saja rintik bergemuruh,"
Semua orang pasti menyukai waktu ketika hujan turun, katanya menambah suasana makin romantis, iya : )
Saya pernah sekali merasai gerimis romansa tanpa payung,
di sebuah taman aku bersua seseorang, tetapi itu perjumpaan yang sangat ringkas, sesingkat waktu senja sebentar tetapi memukau,
"Ia pamit karena berasalan takut hujan semakin lebat ,untuk setelahnya aku membenci hujan,"
Sebelum perjumpaan itu, saya memang tak menyukai hujan karena buatku hujan selalu mendatangkan marut kemalasan,
Saya tak tahu harus berbuat apa jika hujan sedang turun, saya kan memilih waktu sebelum atau setelahnya
"Langit buram
Atau pelangi
rasa Suka
Atau Lara,"
juga perihal ingatanku tentang "kita"yang saya usahakan pupus dan layu dimusim kemarau,
Sore ini hujan membasahi,
ingatan "kita" mengurai,
tumbuh lalu bermekaran kembali
untuk hujan dan senja saya menikmati ritme ditiap rintiknya.
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Selasa, 29 Agustus 2017
Vakansi ke pare bait 2
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar