Selasa, 22 Agustus 2017

Angan, angin, ingin.



aku merampungkan yakin dari tiap perjalananmu,
memaknai arti pegangan tangan  dari deretan kaca-kaca gerbong
angan atau angin ?

kala malam bermula,
Kau menitipkan sapa
hari menemui akhir
Kau menuturkan bara,
Ingin atau angin ?

Lampu gerbong  yang tak begitu terang
muka-muka kusam  sekembali dari  tempat kerja,
sepasang telinga yang kehilangan headset kesukaannya
sepasang mata yang menjadi kacamataku untuk membantuku bisa menatapmu lebih bahagia.

rindu terikat ibarat rel kereta saling menguatkan, 
Di gerbong terakhir,
aku menemukanmu kembali.

harapan yang tak sepenuhnya aku yakini,
Kecemasan yang belum pernah aku singgahi,

kau melewatkanku
berlalu seperti langkah kaki terburu-buru meninggalkan pintu gerbong yang penuh sesak oleh orang-orang patah hati,

Angin
Angan, atau
ingin ?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar