Kamis, 17 Agustus 2017

Petarung uang panai

Sulawesi selatan adalah tanah yang menjunjung adat istiadat (siri na pacce)
di tiap  kabupaten  mempunyai bahasa,suku serta kuliner  yang berbeda, tetapi ada satu kesamaan dari  banyaknya perbedaan,yaitu adat yang kini tlah menjelma menjadi penegak nama baik keluarga,
Budaya uang panai
*jrengg  jrengg*

Saya terlahir dari peranakan bugis-makassar  makanya saya tahu betul budaya tersebut,
kebanyakan pemuda suku bugis rela bekerja siang menembus malam demi mengumpulkan persenan  untuk  'dara' yang di idamkan,
maka tak heran pemuda suku bugis selain  pelaut yang ulung mereka juga seorang petarung ,
para petarung uang panai.

uang panai menunjukkan  bahwa pemuda  Bugis-makassar sangat menghargai keberadaan perempuan sebagai makhluk "anggun" yang sangat berharga (dihargai dalam bentuk materil)

Uang panai memiliki "selera" sesuai dengan tingkatan sang wanita, mulai dari kecantikan, kebangsawanan, pendidikan, hingga pekerjaannya.

Pengaruh faktor pendidikan misalnya, jika "dara" yang akan dilamar memiliki pendidikan sebagai sarjana strata 1, harga panai akan lebih mahal dari gadis lulusan SMA, sedang "dara" lulusan S2 akan jauh lebih mahal dari perempuan lulusan S1.
Untuk perempuan berketurunan bangsawan, nilai uang panai bisa mencapai milyaran rupiah mungkin karena menyangkut harga diri keluarga.
banyak faktor lain yang bisa  mempengaruhi nilai uang panai, misalnya "dara" sudah berhaji,bermobil,atau memiliki rumah dll.

nilai uang panai biasanya  di diskusikan oleh keluarga kedua calon besan, banyak kejadian pasangan kekasih yang tlah berpacaran bertahun-tahun pisah karena adat ini,
Uang panai kini  menjelma menjadi palang pintu yang menghambat kisah percintaan seseorang,
untuk kalian para pejuang uang panai
satu lirik dari sajak suku bugis;
"Agana ugaukengngi,
pakkadang teppadapi,
nabuwa macenning,
Mau luttu maasuwaja,
tatteppa rewemuwa
tosiputoto-e,"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar