Periksalah pintu dan jendela,
Apakah pagi datang terlampau dini?
Atau kelopak mataku selalu sunyi?
Satu prosa yang belum saya beri judul,
Saya tak tahu kenapa nalar tiba-tiba merayu jemari untuk menari, padahal nyanyian kantuk mulai berbisik pelan di telinga,
Suasana dini hari di kota pare berbeda jauh dengan kota asalku, di sini raung-raung knalpot masih terdengar,sedang di tempat asalku pasti semua bising sudah tertidur,
Disini gerobak gorengan masih menggoda pembeli dengan 'kriuk' pisang di atas wajan yang berisikan minyak goreng,
Di kota asalku penjual gorengan pasti sudah bermimpi bertemu dengan calon pembelinya ,
"Tetapi genangan air di pinggiran kedai,serupa tetesan air hujan di tempatku,"
sebentar lagi Langit kan berganti subuh, masjid mulai melantunkan tadarrus membangunkan manusia beriman untuk berwurdhu,
barukali ini saya terjaga seutuhnya, tak tidur seharian,
fisik tak nampak kelelahan mungkin karena asupan protein tawa malam tadi,
Salah satu kawanku di komunitas standup comedy sukses membuat tawa"pecah"di shownya,
Saya menikmati caranya berbagi keresahan di atas panggung, act out-nya keren, diksinya 'ngena' dan closing bittnya Memaksa penonton untuk berdiri bertepuk tangan, : )
Di venue malam tadi saya merasa terhormat bisa diundang juga ikut "perang tawa" dengan para orang gila yang santun.
Langit mulai berisi warna
,perlahan nampak tudung matahari memulangkan rasa kantuk, ibarat asap rokok yang terbang ke angkasa,
seperti menatap mata pagi,
Saya selalu berharap pada temu yang tak di sengaja,
Perjumpaan sepasang mata yang tak di sangka-sangka.
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Jumat, 01 September 2017
Vakansi ke pare bait 3
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar