Jumat, 01 September 2017

Vakansi ke pare bait 3

Periksalah pintu dan jendela,
Apakah pagi datang terlampau dini?
Atau kelopak mataku selalu sunyi?

Satu prosa yang  belum saya beri  judul,
Saya tak tahu kenapa nalar tiba-tiba  merayu jemari untuk menari, padahal  nyanyian kantuk mulai berbisik pelan di telinga,
Suasana dini hari di kota pare  berbeda jauh dengan kota asalku,  di sini raung-raung  knalpot masih terdengar,sedang di tempat asalku pasti  semua bising sudah tertidur,
Disini gerobak gorengan masih menggoda pembeli dengan 'kriuk'  pisang di atas  wajan yang berisikan minyak goreng,
Di kota asalku penjual gorengan pasti sudah bermimpi bertemu dengan calon pembelinya ,

"Tetapi genangan air di pinggiran kedai,serupa tetesan air  hujan di tempatku,"

sebentar lagi Langit  kan berganti subuh, masjid mulai melantunkan  tadarrus membangunkan manusia beriman untuk berwurdhu,
barukali ini saya terjaga seutuhnya, tak tidur seharian,
fisik tak nampak kelelahan mungkin karena asupan protein tawa malam tadi,
Salah satu kawanku di komunitas standup comedy sukses membuat tawa"pecah"di shownya,
Saya menikmati caranya berbagi keresahan di atas panggung, act out-nya keren, diksinya 'ngena' dan closing bittnya Memaksa  penonton untuk berdiri bertepuk tangan, :  )
Di venue malam tadi saya merasa terhormat bisa diundang juga  ikut "perang tawa" dengan para orang gila yang santun.

Langit mulai berisi warna
,perlahan nampak tudung matahari memulangkan rasa kantuk, ibarat asap rokok yang terbang ke angkasa,

seperti menatap mata pagi,
Saya selalu  berharap pada temu yang tak di sengaja,
Perjumpaan sepasang mata yang tak di sangka-sangka.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar