Minggu, 30 Juli 2017

Jeluk ramai bait 4



Saya menemukan ketenangan di  gemerlap yang diam,menyembunyikan kesedihan di nyala nan redup ,
 ikut menghardik takdir mengapa  berujung kegagalan,
Mungkin sinonim dari namaku adalah kata gagal (n).

logika berteriak tetapi tak bersuara,saya menemukan nada yang cocok untuk mencairkan endorphin yang membeku,
Yaitu suara pena yang menulis.

rasanya tlah lama saya tak melanjutkan tulisan  jeluk ramai, maaf karena akhir-akhir ini saya bernalar ke puisi-puisi patah hati,
merasai kembali bagaimana sensasi  kehilangan sosok cinta  sejati.

Sudahlah ,

di tengah keramaian, 
tertawa bersama kawan,
bersulang di kafe yang berpetromaks modern,

"Itu memang diriku tetapi itu bukan aku,"

Awalnya nampak baik-baik saja, turut menikmati waktu dengan mereka yang saya sebut sebagai kenalan,
setelah beberapa menit saya mengeluh merindukan kamar,
saya menyesal  berada di tengah kafe yang berlumur musik jazz,
Saya ingin kembali berbaring diatas 'hammock'yang berayun, Sahut nalar membentak white coffee yang saya pesan.

(tunggu, sejak kapan aku menyukai kopi!,mengapa aku  memesan kopi? Yang benar saja )
............................................................
Kebanyakan orang yang mengenalku mengatakan tak ada manusia secerewet diriku,saya si  'over' aktif dan suka berlaku humoris, begitu katanya.
Saya juga sosok yang nyeleneh tetapi menyenangkan,
sambungnya.

"Kau tak tahu di balik hijaunya pesawahan,ada orangan sawah kikuk Yang kesepian,"
.........................................................

Hendak menyalakan sebatang rokok yang akhir-akhir ini menjadi penghias di bibirku,
Saya juga tak tahu mengapa, padahal beberap bulan yang lalu saya membenci zat nikotin terkutuk itu,

"semua orang butuh pelampiasan,
semua orang butuh pelarian, semua orang butuh ketenangan,"

Sahabatku  mengatakan saya manusia yang gemar berpura-pura, saya tak menyangkalmu kawan,
ibarat  topeng pantomin yang bersembunyi dibalik riasan putih, berbicara menggunakan gerak,
Karena ia takut bersuara.
iya
sekali lagi  saya tak menyangkalnya
sahutku,
sembari meremas rokok yang tak jadi saya nyalakan,

"cara keluar dari situasi sulit bukan dengan merusak diri tetapi   dengan tersenyum meski itu senyum-senyum palsu,".


Tidak ada komentar:

Posting Komentar