Selasa, 29 Agustus 2017

Vakansi ke pare bait 2

Jalan mulai lengang,  ini artinya    goncangan pada roda tlah usai,  perutku tak harus lagi berkuat menahan isinya, saya khawatir jika tak sanggup  menahan ledakan merapi, lahar kecoklatan  pasti akan keluar dari lorong kerongkongan,
Saya tak bisa membayangkan apalagi menuliskan  jika itu benar  terjadi,
untunglah jalan mulai tentram, menghela napas kemudian menyimpan kembali kantung kresek yang saya sembunyikan di dalam sweter,
dari balik kaca, petang kelihatan menggigil, ditiap sisinya  hitam menyelimuti serupa  kelambu  raksasa yang  menutupi angkasa,
awan tak lagi berwarna kapas,kini ia menjelma seekor kerbau jantan yang siap menanduk,

"Awan terkadang memusuhi siapa saja , tak menanyakan mengapa, tiba-tiba saja rintik bergemuruh,"

Semua orang pasti menyukai waktu  ketika hujan turun, katanya menambah suasana makin romantis, iya  : )
Saya pernah sekali merasai  gerimis romansa tanpa payung,
di sebuah  taman aku bersua seseorang, tetapi  itu perjumpaan yang sangat ringkas,  sesingkat waktu senja sebentar tetapi memukau,

"Ia pamit karena berasalan  takut hujan semakin lebat ,untuk setelahnya aku membenci hujan,"

Sebelum perjumpaan itu, saya memang tak  menyukai hujan karena buatku hujan selalu mendatangkan marut kemalasan,

Saya  tak tahu harus berbuat apa jika hujan sedang turun, saya kan  memilih waktu sebelum atau setelahnya

"Langit buram
Atau pelangi 
rasa Suka
Atau Lara,"

juga perihal ingatanku tentang "kita"yang saya usahakan  pupus dan layu dimusim kemarau,
Sore ini hujan membasahi,
ingatan "kita" mengurai,
tumbuh lalu bermekaran kembali

untuk hujan dan senja  saya menikmati  ritme ditiap rintiknya.


Minggu, 27 Agustus 2017

Vakansi ke pare bait 1

" Awan berbentuk sesuai representatif perasaan orang-orang di permukaan, "
Banyak cara membuat langit nampak ceria, berimaji layaknya anak perempuan yang menggambar matahari lengkap dengan  alis mata dan garis senyuman : )

saya menggumam pada niur dahan yang menunduk di bahu jalan seakan memberi penghormatan ke tiap kendaraan yang melewatinya,
seperti biasanya  saya memangku buku dan di jemariku terjepit sebuah ballpoin serupa sumpit, saya ingin menangkap  intuisi apa lagi yang di berikan alam lewat tontonan di luar jendela mobil,
ada-ada saja yang membekas di nalarku, seperti eratnya pelukan seorang anak ke ayahnya di  atas motor metic atau kepulan karbondioksida dari mobil truk yang menghalau tatapanku ke lamunan langit.
Di sampingku duduk sosok perempuan muda yang selalu menatapku,dia mengenakan sweter berwarna merah, kebetulan itu warna favoritku,
Sesekali aku pun mencuri pandang untuk memperjelas wajahnya, dia kelihatan manis walau tak bergincu,wajahnya bersih berkulit  sawo natural, dia juga berkacamata sepertiku, entah ada perasaan  yang menarikku untuk selalu memandanginya, saya memperhatikan ibarat pengemudi yang mencuri pandang lewat kaca spion,di saat saya menunduk untuk menyelesaikan naskah cerpen yang saya tulis, dia kembali menatapku, kejadian yang terus berulang hingga mobil yang kami tumpangi berhenti sejenak, tatapan kami pun enggan beranjak.

Entahlah Mungkin cuma saya yang keGRan,
mungkin dia  cuma tertarik pada kacamata baru yang kukenakan, mungkin dia keheranan pada tulisan tanganku yang serupa cakar ayam,
Semua baru sebatas kemungkinan-kemungkinan yang tak di sengaja,

Sudahlah saya tipekal  yang tak pandai berkenalan apalagi jika mengenai perasaan suka pada lawan jenis,
untuk saat ini
entahlah
Saya masih tertarik  pada seseorang yang selalu saya lihat sosoknya pada ngarai ombak yang menghempas,
Menghempas otak kananku untuk berpikir rasional,
Menghempas bagian otak kiriku untuk bertindak membayangkan,
Membayangkan kau adalah perempuan bersweter merah yang masih memperhatikanku dalam diamnya.


Sabtu, 26 Agustus 2017

Distance space


Corak Centil  lampu hias mempercantik kursi pantai bantaeng,
malam gemelintang,
Komposisi vokal serta gitar akustik  menyihirku untuk larut dalam melodi

"Cause there some thing  in the way
you look at me It's as if my heart
knows you're the missing piece...,"

Selirik reffren lagu cristian bautista dilantunkan penghibur kafee
aku memandangi sepasang kekasih saling merangkul,
sesekali membelai
Bagai helai-helai rambut berponi

ada Lesung mata seseorang di kafe outdoor ini yang mengingatkanku pada
dua cangkir berisi sup dingin buah-buahan,
Kau pasti tlah lupa.,
Kala itu Kita berpayung pohon lebat,
Kita singgah diemperan jalan melegakan kerongkongan,  kau menanyakan mengapa ada bekas luka di lengan kiriku,
aku mengatakan mengapa kau  sangat jauh,
Semesta malah menjatuhkan ranting seakan menjadi penyelamatmu untuk tak menjawab pertanyaanku,
aku tak menyangka kau  mencapai dan mengambil  ranting  itu di atas rambutku,
Membuat matamu dekat dengan mataku,
semakin kau dekat lagi-lagi kau kelihatan sangat jauh.

(saya menulis di meja nomor 14 memperhatikan  seseorang sedang berbahagia bertukar pesan singkat lewat gadget miliknya )


Kamis, 24 Agustus 2017

Angan, angin, ingin bait 2



aku belajar menyatukan angin dari silang angan dan inginku,
Sekiranya aku berharap petang tak terlihat terang tetapi kelihatan redup mata tidur
Mengapa Angin setia memelihara kecemasanku ?

empatimu  tak lagi merasai
ragamu tak bisa merangkul  kepastian,

temaram jingga memulihkanku ibarat segenggam gula yang memaniskan secangkir teh tawar.

aku bertukar harap pada gumpalan awan yang  terlihat seperti angsa  beribu sayap

Impian sederhana terlihat sangat mewah.


Selasa, 22 Agustus 2017

Angan, angin, ingin.



aku merampungkan yakin dari tiap perjalananmu,
memaknai arti pegangan tangan  dari deretan kaca-kaca gerbong
angan atau angin ?

kala malam bermula,
Kau menitipkan sapa
hari menemui akhir
Kau menuturkan bara,
Ingin atau angin ?

Lampu gerbong  yang tak begitu terang
muka-muka kusam  sekembali dari  tempat kerja,
sepasang telinga yang kehilangan headset kesukaannya
sepasang mata yang menjadi kacamataku untuk membantuku bisa menatapmu lebih bahagia.

rindu terikat ibarat rel kereta saling menguatkan, 
Di gerbong terakhir,
aku menemukanmu kembali.

harapan yang tak sepenuhnya aku yakini,
Kecemasan yang belum pernah aku singgahi,

kau melewatkanku
berlalu seperti langkah kaki terburu-buru meninggalkan pintu gerbong yang penuh sesak oleh orang-orang patah hati,

Angin
Angan, atau
ingin ?


Undang.

Ajaklah aku berkereta sesekali
Aku kan mempuisikanmu di tiap deruhnya
Hingga kita melewatkan banyak stasiun hujan.

Ajaklah aku bepergian sesekali,
Beranjangsana di pagar pelangi,
Hingga kita bersahut bak gelatik

Ajaklah aku berkunjung sesekali
Kenalkan aku pada garis tanganmu
hingga aku Menanggahkan jam tangan,
melupakan waktu.

Ajarkan aku cara melipat kertas
Maka aku buat perahu origami
Kita berlayar melewati ngarai mimpi.

Ajarkan aku cara menikmati secangkir teh di perbukitan,
Maka kita serupa adukan yang menyatu dengan alam.

Ajarkan aku berlari di  minggu pagi,
Menemanimu mengejar matahari,
Hingga kau mengingatku pernah bernama lupa.


Kamis, 17 Agustus 2017

Petarung uang panai

Sulawesi selatan adalah tanah yang menjunjung adat istiadat (siri na pacce)
di tiap  kabupaten  mempunyai bahasa,suku serta kuliner  yang berbeda, tetapi ada satu kesamaan dari  banyaknya perbedaan,yaitu adat yang kini tlah menjelma menjadi penegak nama baik keluarga,
Budaya uang panai
*jrengg  jrengg*

Saya terlahir dari peranakan bugis-makassar  makanya saya tahu betul budaya tersebut,
kebanyakan pemuda suku bugis rela bekerja siang menembus malam demi mengumpulkan persenan  untuk  'dara' yang di idamkan,
maka tak heran pemuda suku bugis selain  pelaut yang ulung mereka juga seorang petarung ,
para petarung uang panai.

uang panai menunjukkan  bahwa pemuda  Bugis-makassar sangat menghargai keberadaan perempuan sebagai makhluk "anggun" yang sangat berharga (dihargai dalam bentuk materil)

Uang panai memiliki "selera" sesuai dengan tingkatan sang wanita, mulai dari kecantikan, kebangsawanan, pendidikan, hingga pekerjaannya.

Pengaruh faktor pendidikan misalnya, jika "dara" yang akan dilamar memiliki pendidikan sebagai sarjana strata 1, harga panai akan lebih mahal dari gadis lulusan SMA, sedang "dara" lulusan S2 akan jauh lebih mahal dari perempuan lulusan S1.
Untuk perempuan berketurunan bangsawan, nilai uang panai bisa mencapai milyaran rupiah mungkin karena menyangkut harga diri keluarga.
banyak faktor lain yang bisa  mempengaruhi nilai uang panai, misalnya "dara" sudah berhaji,bermobil,atau memiliki rumah dll.

nilai uang panai biasanya  di diskusikan oleh keluarga kedua calon besan, banyak kejadian pasangan kekasih yang tlah berpacaran bertahun-tahun pisah karena adat ini,
Uang panai kini  menjelma menjadi palang pintu yang menghambat kisah percintaan seseorang,
untuk kalian para pejuang uang panai
satu lirik dari sajak suku bugis;
"Agana ugaukengngi,
pakkadang teppadapi,
nabuwa macenning,
Mau luttu maasuwaja,
tatteppa rewemuwa
tosiputoto-e,"


Jus wortel bait 14

"angin tak  tiap hari membawa kesejukan, kadang di bawah terik matahari  ia malah menyerahkan rasa gerah,"

Pernah sekali kita berpapasan, kau berlari berjinjit di  bidak rumbut dengan  lintasan bujur jaring yang memisahkan dua sisi lapangan,sedangkan saya duduk di dalam kelas mencerna rumus matematika yang menolak masuk ke lambungku

"aku ingat kau pernah menatapku walau matamu tak pernah memandangku,"

dengan mengenakan setelan baju  olahraga berwarna merah kau  menatapku seakan memandangi yang kau tak ingin lihat,
mata kita bertemu sebatas kebetulan-kebetulan.

Kau nampak menyatu dengan orang-orang di sekililingmu, namun  hari ini kau tak seperti biasanya,
mungkin kau punya "masalah" yang membuat lesung di pipimu  mengkerut  ibarat  mutiara yang menyembunyikan cahayanya  di balik cangkang tiram.
  tak serupa petang kemarin  saat kau berlatih memasang tandu,
kau begitu riang,lepas terkekeh  tanpa beban apapun.

entahlah Mungkin saya ketagihan memperhatikanmu hingga  tahu betul warna  dari tiap lekukan ekspresi di wajahmu,

Abu-abu Sedih
Jingga Cemberut
Biru bahagia
Atau merah Marah


"Hari ini jadwalmu untuk bermain voli,
satu keberuntungan,
Karena kelasku berhadapan langsung dengan lapangan,
aku bersyukur  bisa memandangi warnamu sedikit lebih lama dari biasanya",


Sabtu, 12 Agustus 2017

Jus wortel bait 13(paragraf, a)

Parkiran belum ramai,
Hanya beberapa motor siswi yang terparkir di sisi selatan,
di sekolahku parkiran laki-laki dan perempuan terpisah,
entah apa faidahnya mungkin para guru takut ada siswa yang pacaran di parkiran,  tetapi menurutku itu aturan yang tak masuk akal,kalaupun memang parkiran di pisah cuma beralasan siswa tak di perbolehkan berinteraksi,terus mengapa kantin di satukan ?,tak di bedakan,
bukannya kantin adalah tempat favorit sepasang kekasih saling memadu cerita ?

iya benar,saya  jenis siswa pembenci kantin sekolah,
bukannya karena  tak di beri uang jajan yang cukup,
 tetapi saya  tak ingin berpapasan dengan dia juga pangeran di kantin,
Aku takut 'Awkward moment' mematikan semangatku untuk menuntut ilmu. *Senyum sarkas*

jika saya melihat mereka jalan bersama saya memilih 'bertapa' di kelas, dan sebisa mungkin menghindar dari mereka.

" reaksi jatuh cinta diam-diam mengubah penakut  menjadi seorang pengecut,"
......................................................
Jujur sih saya cemburu pada  kawan-kawan  yang tlah berpacaran,
Mereka punya tempat  meminta tolong untuk memasangkan dasi,
Punya tempat meminta  bantuan  untuk mengerjakan LKS,
Atau hanya sekedar minta dibantu  untuk barengan ke kantin sekolah.
........................................................
duduk di sadel motor sambil 'memencet' jerawat adalah ritual yang menemaniku memperhatikan suasana parkiran sekolah,
Memperhatikan si-dia datang,
Memperhatikan seberapa cepat dia melangkah,
Memperhatikan dia menenteng buku LKS,
Memperhatikan dia bercermin di spion motornya
Memperhatikan dia merapikan dasinya,
Memperhatikan dia menunggu seseorang,

"Memperhatikan dia yang tak pernah memperhatikanku,"


Jumat, 11 Agustus 2017

Aku adalah ombak yang memeluk pantaiku dengan erat




Di hening paling sore
Aku menyapa dari air
yang terkena sinar matahari,
Menerkah seberapa sering buih bersembunyi,

Nampaklah Kepiting Koral bergerak menyamping,
Capitnya terbuka-tertutup menakut-nakuti riak
Agar tak menghempas.


Nyata,
Di laguna paling jauh aku adalah ombak yang memeluk pantaiku dengan erat.


Rabu, 09 Agustus 2017

Dealova dengma dan ombak bait 7



Dengma dan ombak saling menguatkan, dengma bertatap setelah senja terlewat, mereka tak pernah bersua sesuai rencana,
kalau bukan ombak yang menolak maka dengma yang  datang terlambat.

dengma keseringan merajuk pada langit, mengapa penguasa harus menciptakan karang pemecah ombak ?

Pedang di Jam tangan dengma tepat menusuk angka 17.27, nalar memberi isyarat tiba saatnya  mengunjungi ombak menepati rencana,

Untuk senja yang kesekian kalinya Dengma  bersemangat,Bagai anak SD yang  tergesah-gesah menarik tas punggungnya ketika mendengar bel pelajaran selesai.

Setelah langkah kirinya yang pertama,dengma menahan kaki kanannya untuk beranjak,ia tunduk termenung seraya  berucap ;

" aku tak menahanmu untuk pergi, hanya saja anganku belum siap menerima kepergian  juga akibat dari hempasan-hempasannya,"


Selasa, 01 Agustus 2017

Juli azalea



Langit pagi berima
Kelopak azalea yang haus tlah dipercik petugas taman

Juli tenggelam tanpa pamitan
Juli tak melambai  meminta pertolongan.

dan, tiap-tiap aku merindui  pertemuan.
Aku tenggelam,

Tolong !

ajarkan aku cara berenang aku harus bisa mengapung juga menyelam di tatapanmu.