Selasa, 30 Agustus 2016

Selagi





Kini  langit tak  bergincu  jingga,
Kembali senyap,situasi gelap seketika.
Semalaman  demi  notifikasi ret-tweet jemariMu, Aku rela menanggahkan adukan jasmin menggantinya dengan kardus berisi gantungan kunci berbentuk palu,
Yang turut aku pandangi  hingga rintik air mata menambah asin teh di cawanku,

Kini akunMu Telah berbentuk gembok sebagai tanda privasi  penyambung terima kasih.

Apakah salah.? 
berharap kepulangan asap ke tempatnya  berkobar,
engKau malah  mengibasnya  menjauh dari arah angin.

setia memandangi senja dalam bingkai jendela, MencintaiMu diam-diam,walaupun sekarang kau serupa dulu
hilang tanpa kabar

Buatmu, tulisanku sebagai pemberat mata,penuntun memeluk guling.
mata sipit yang salah,
puisiku adalah selimut yang menidurkanMu bersama rasa bersalah.
Berbahagialah.


Senin, 29 Agustus 2016

Ajak aku ke prau



anak merpati mencari bulu induknya di antara bulu burung bangau, begitu pula Aku tak tahu perihal negeri prau.

TempatMu kemarin mematok  tenda, di penghujung minggu bekerja,
Kata orang, prau rumah mentari pagi  terbaik di jawa
Indahnya, melebihi Bukit seasia tenggara

Imajiku bergejolak  membayangkan sipitMu yang berlatarkan sunrise prau,
Aku berhasrat menuangkan teh hangat di cangkir genggamanMu
Menatap penuh arti menyaksikan embun sebelum ia sempat mengering,
menghilang.
Aku membacakan pujian melankolis tanpa jeda
hingga kita memandangi matahari terbit seutuhnya

Teruslah mengingatkanKu tentang prau,
Sebab kau dan bukit itu,
dua keindahan yang membuatKu menggigit bibir bawah.


Sabtu, 27 Agustus 2016

Tepi senja



Aku  bermimpi  mata itu menyambutku sebelum pagi,
Karena, pupil sipitMu selalu membacakanku
larik-larik puisi sebelum embun,

tahun- tahun yang silam, kita tak pernah selaras ibarat melodi rintik hujan yang  berbeda di tiap genteng,
Aku sastrawan sosial,kau saintis IPA,Aku suka menggenggam kacu pramuka, engkau sibuk merakit tandu PMR,
Aku berkulit langsat ,sedangkan engkau seputih bunga kapas.
letakMu di seberang kompas , sedang aku menetap di sangkar pertama kita bersua,
Lembayung ?
jua Adat menikmati waktu di penghujung minggu  kita tak sama
  engkau mendaki puncak mahameru, sesampainya kemudian larut dengan pasak-pasak api unggun,
Sedangkan aku lebih memilih ke perpustakaan di pertigaan jalan
bergelut dengan milyaran diksi,prosa juga novel romansa masa lalu,
cerita yang sangat berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama,
ibarat dua arus  jernih yang bermuara di tepian senja sore nanti.


Jumat, 26 Agustus 2016

125 ke arah barat

Apa gunanya detik jam di lengan sebelah kananKu bergerak cepat?
Jika sedih dan bahagia datang sangat terlambat .
125 km ke arah barat ,
Di perjalanan tadi, pupil mataku benar menengok ke arah depan,
Tetapi pikiranku menghadap ke lampu belakang seakan ia mencari  sisah-sisah air mata yang tertinggal,
jauh di tempat saat pertama kali asap motorku bersuara,memecah subuh  turut mengembalikan  angin malam ke lautan berganti hawa sejuk ranting pepohonan,
Lihatlah,aku menyukai perjalananKu kali ini.
Sewaktu tiba di kota sebelah,
Tersebar kabar,ada sesosok lelaki terbunuh,
bukan lantaran  kopi sianida,
tetapi terkapar akibat tegukan teh berlarutkan air mata,
engKau pelakunya.


Kamis, 25 Agustus 2016

Lembayung

aku selalu menginginkan  Perbincangan kita di saat minggu,
Silih berganti mengirim pesan lewat aplikasi kicauan burung,
Menyatukan banyak hari selama kita saling merindui,
MenurutMu mungkin aku terlalu egois menggunakan kata "kita" dalam tiap prosa yang aku lukis,
Sangat ego, memakai inisial namaMu di tiap judul puisiKu,
terlalu lancang mengukir  inisial huruf namaMu di batu nisan kebahagiaanKu.
Aku  tahu diri ,aku tidak setabah hujan di bulan juni
Aku hanya bentukan prosa kosong yang berisi sajak-sajak patah hati,
Lembayung ?
Aku selalu menanti kepulanganMu
Masih di tempat yang sama,
di tenda Merah muda
di bawah senja.


Selasa, 23 Agustus 2016

08.07



Kau tanyakan akhir pekanKu seperti apa?
Serupa pagi  kemarin, hanya sibuk merangkai sobekan ingatan yang berhamburan, turut berpacu memungutinya ,sebelum tertutup bias matahari pukul 08.07.
Sementara di teras rumahku,dengan iringan suara gesekan di atas cangkir, aku berbincang dengan handphone berlatar mata sipitMu ,
Ia bertutur begitu ramah, bagai reporter televisi pagi.
pukul 08.07 menyiapkan jamuan pesta minum teh,dengan kudapan surat kabar edisi tujuh tahun silam, sekiranya kau sudi menghadiri.
Tetapi aku salah,
Kau lebih memilih meneguk jus wortel kesukaanMu sembari memandangi indahnya bukit kelinci di pelosok mimpiKu.


Minggu, 21 Agustus 2016

tutur BagianKu

birunya Langit  mengembalikan perbincangan yang tertunda,
Perihal Pesan Si wanita sipit beralis dawai romansa,
Ia Seketika menyapaku penuh  rasa,
Di buatnya aku merasakan adrenalin kincir raksasa,
Aku Ibaratkan seekor anak kucing lugu jua tak berdaya, ketika mengecap tiap inci kalimat  yang ia hidangkan.
Seketika bermunculan ribuan tanda tanya,
Di mana ia bersembunyi selama ini,di pelataran kota,
ataukah di kutub utara?
Aku ragu menanyakan ke mana perginya  serpihan cinta yang tersapu air mata,saat nama kami ada pada panah chupid,

Atau,ini hanya mimpi dari  kejujuranku.
Tengah hari tadi aku bercerita
Tentang bentuk Awan yang menyerupai lilin parafin putih,   turut meninggalkan bekas tetesanNya di atas langit.
Aku yakin itu dia
jelma'an awan berbentuk lilin,yang selalu aku pandangi,
sedang aku selamanya menjadi langit berisikan jejak-jejaknya.
Engkau menanyakan  apakah ada yang lebih tangguh dari kalimat terima kasih ?

Berlapang dada
Gumamku.


Kamis, 18 Agustus 2016

denting Jam dinding

berparas kayu
Bilik lintar dua belas waktu
Jarum menitnya terbuat dari serat  berwarna perunggu,ia tanpa lelah mengarungi lingkaran samudra ibarat pinisi nan terus berlayar ke arah kanan matahari tanpa butuh hembusan angin.
dari letak jam dinding, aku  berharap dapat mengembalikan waktu,
Kembali,
saat cahaya kunang-kunang menerangi jalan-jalan,bukan lampu sorot kendaraan
Kembali,
ketika rerumputan adalah tempatku berbaur bukan kursi beton yang berhias ukiran rumput.
Denting jam dinding
Kembalikan aku saat jatuh cinta tuk pertama kali.


Minggu, 14 Agustus 2016

Liontin kunci



"KesalahanKu membuatmu jauh, tetapi segala hal tentangku simpanlah di atas loteng
jangan membuangnya, karena niatku memberi hanya untukMu. "
sepenggal pesan yang kau sematkan tujuh tahun lalu,
Mengapa? kembali,
tersirat dari rongga langit,
mengoyak hingga menelan dadaKu.  Sayang,aku mengingatnya lagi,
dan lagi.,
Aku telah melupakanMu jauh sebelum aku terlahir,
rasa benciku  sesubur ilalang di pesawahan,
terus menumbuh tetapi menjadikan sawah landai serta semakin hijau

  Segala hal tentangMu
Aku tak menyimpannya di loteng , aku tidak ingin kenangan  itu, berdebu turut berbau bangkai tikus,
tetapi,
telah aku  jadikan hiasan kunci, sebagai pengingat sesosok wanita yang membuatku sesakit ini.


Selasa, 09 Agustus 2016

Perihal lahir

Langit  lengkapi gelak tawa
Seisi ruang basah karena rintik bahagia,
Ibarat selongsong senapan  berpeluru tima,
Tarik pelatuknya,dik
Pecahkan sepiMu malam ini,
Luapkan rasa girang seakan  mampu mengaliri derasnya sungai gangga.
Selagi senja belum terbit,
Kenanglah tepuk berima menyambutMu
Kita bergiliran mengisi cangkir-cangkir kesuksesan
tanpa menumpahkan buih  kedengkian.
Tiup lilinMu
Mengalir do'a jingga untukMu.







 


Senin, 08 Agustus 2016

Jeluk ramai bait 2



Merebah  di lapang berumput sembari Meneropong Layang-layang yang asyik menunggangi awan,
Ada Belacak rahasia dari sisi  nyaman ini,
Aku sangat takjub dengan simbol kesendirian sambil menekuk lengan di ruang hijau,
Aku tak  sejenis  manusia  yang  meneguk cangkir demi cangkir  perbincangan, hingga mereka mabuk keramaian.
Sebut saja, aku pengagum sunyi,
Turut bermimpi menikmati  tua dalam rumah kura-kura,
Tiap senja bermukim  di kursi goyang, sembari menatap ayunan dahan pohon juga nyanyian pipit .


Pawana

Tirai redup bercorak bintang, 
Pawana kecil berlalu lalang,
Ia berbisik, pula menyiapkan telinga
Di tantangnya aku bercerita senja
Alkisah keindahan petang berwarna jingga telah ku dendangkan,
tetapi ia Hanya menekuk muka kusam segalak  ayunan kapak
Pawana terbitkan pesanKu,
kemudian Sangkut di jendela kamarnya.



Pawana - pawana
Aku rindu aroma rambutnya

Pawana-pawana
Senandungkan kisah bijaksanaKu 

Pawana-pawana
Pundakku  tetaplah miliknya.