Langit berkoar-koar, sinar kilat bagai garis vertikal putih dikertas horison malam,
dikamarku bohlam padam,televisi pun kini surut,
Hanya ada kipas angin bersuara mesin perahu,
Rutinitasku serupa sabtu biasa,
kali ini, ada hujan sebagai alibi-ku, tuk tetap 'stay' di kasur kamar,
aku selalu mencari alasan tuk menolak berkunjung ke sasana kafe layaknya kaum pemuja sabtu kebanyakan,
aku hanya keluar rumah ketika ada yang memanggilku menjadi badut verbal,akupun sesekali bertandang ke toko buku tuk mencuci mata dengan huruf berbingkai.
Aku selalu berimaji bisa mengajakmu menikmati teh tarik kafe,
aku ingin berdiri di belakang microphone membaca puisi atau menceritakanmu 'joke' lucu.
Aku juga ingin mengajakmu berkunjung ke toko buku ,aku ingin mengenalkanmu pada tumpukan prosa novel romansa.
Setelah itu,aku-kan mengantarmu pulang dengan vespa,
disepanjang jalan kita bercerita, tertawa,saling ejek dan cemberut bersama,
Sesampainya di depan pagar,tak lupa aku mengecup keningmu sembari berucap "ini bukan mimpi".
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Sabtu, 25 Maret 2017
Sabtu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar