Selasa, 13 Juni 2017

Berpuisi



Aku tak tahu memulai dari mana,
setelah kepergianmu aku harus  memposisikan diri layaknya  hujan di bulan juni milik sapardi,
aku kehilangan payung yang melindungiku dari rintik kesedihan,
kau memang perempuan baik,
kau ingin menebus luka dengan konsep mengembalikan rasa.
iya, aku tak sanggup memperjuangkanmu,
Dan kau  memilih untuk belajar setia,  aku pun sedang belajar untuk tetap memendam  perasaanku  layaknya sebuah fosil usang ,aku tak akan menggalinya,
biar rintik menginjaknya jauh  hingga ke dasar bumi paling dalam.

Akhir-akhir ini imajiku kalang kabut, tulisanku keruh tak mengalir,layaknya ada kerikil kecil yang menghambat di pikiranku,
mungkin ini karma
Di takdirkan tuhan berbentuk pena yang kehabisan tinta ?

Aku salah mempuisikan  perempuan juga salah memuja yang bukan milikku, 
terkadang aku  berpikir untuk menjauh seperti yang kau  lakukan,
tetapi luka tak hentinya mengelus dadaku 
Dan satu cara untuk mengenang adalah berpuisi tentangmu.

sudahlah,
Aku tak (ingin) menulis lagi dalam waktu dekat,
Ku matikan leptop lalu berbaring di depan rak,
buku kahlil gibran berjudul "kesunyian" tergeletak menatapku  seakan menantang untuk dibaca  kembali, padahal aku tlah khatam dua kali, lagian  masih banyak buku baru yang belum sempat  aku baca,
tesis dan jurnal perkuliahaanku
Pun masih tersegel tak tersentuh.

"Kau mematahkan sayap-sayapku yang tlah lama patah,
Setidaknya aku masih punya dua kaki untuk belajar berjalan."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar