Aku tak tahu memulai dari mana,
setelah kepergianmu aku harus memposisikan diri layaknya hujan di bulan juni milik sapardi,
aku kehilangan payung yang melindungiku dari rintik kesedihan,
kau memang perempuan baik,
kau ingin menebus luka dengan konsep mengembalikan rasa.
iya, aku tak sanggup memperjuangkanmu,
Dan kau memilih untuk belajar setia, aku pun sedang belajar untuk tetap memendam perasaanku layaknya sebuah fosil usang ,aku tak akan menggalinya,
biar rintik menginjaknya jauh hingga ke dasar bumi paling dalam.
Akhir-akhir ini imajiku kalang kabut, tulisanku keruh tak mengalir,layaknya ada kerikil kecil yang menghambat di pikiranku,
mungkin ini karma
Di takdirkan tuhan berbentuk pena yang kehabisan tinta ?
Aku salah mempuisikan perempuan juga salah memuja yang bukan milikku,
terkadang aku berpikir untuk menjauh seperti yang kau lakukan,
tetapi luka tak hentinya mengelus dadaku
Dan satu cara untuk mengenang adalah berpuisi tentangmu.
sudahlah,
Aku tak (ingin) menulis lagi dalam waktu dekat,
Ku matikan leptop lalu berbaring di depan rak,
buku kahlil gibran berjudul "kesunyian" tergeletak menatapku seakan menantang untuk dibaca kembali, padahal aku tlah khatam dua kali, lagian masih banyak buku baru yang belum sempat aku baca,
tesis dan jurnal perkuliahaanku
Pun masih tersegel tak tersentuh.
"Kau mematahkan sayap-sayapku yang tlah lama patah,
Setidaknya aku masih punya dua kaki untuk belajar berjalan."
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Selasa, 13 Juni 2017
Berpuisi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar