Jumat, 23 Juni 2017

Mata yang sakit.

Serupa angin di depan jendela
Tabah mengetuk perlahan-lahan,
Berharap sekuat hati tuk dapat kau pikirkan.

yang menangis, terlihat seperti Sepasang kaca berangka
Langit tak sanggup menormalkan penglihatanku.

di malam itu,
aku mata yang sakit.


Rabu, 21 Juni 2017

Ikat rambut

Berwajah oval Kanvas
Berikat rambut dasi kupu-kupu
senyum Lentik bergincu jingga

Di barisan pot-pot hias
Saya temukan ikat rambutmu
Wanginya tercium serupa Harum pucuk bunga.

Sebahu rambut dan mata minimalis
alis ikut melengkung
tak kala jantungku degup, bak doremi bernyanyi

Sesaat lampu taman menyala
Ranting berhenti berguguran
Tanah kering kini tumbuh reremputan.

Ku temukan ikat rambutmu
Dijaring kail nelayan
Wangi harum menutupi bau amis
Ikan layang.

Ketika saja pasir bersenggolan
Langit tadinya bergenting senja
Harus terpapah ,tumbang tertimpa getir awan petir.

Ombak datang menenteng tongkat berikat perca putih
Saya Bertelanjang kaki,
tetap mencari bau rambutmu yang jatuh di barisan jejak-jejak perahu.


Selasa, 13 Juni 2017

Berpuisi



Aku tak tahu memulai dari mana,
setelah kepergianmu aku harus  memposisikan diri layaknya  hujan di bulan juni milik sapardi,
aku kehilangan payung yang melindungiku dari rintik kesedihan,
kau memang perempuan baik,
kau ingin menebus luka dengan konsep mengembalikan rasa.
iya, aku tak sanggup memperjuangkanmu,
Dan kau  memilih untuk belajar setia,  aku pun sedang belajar untuk tetap memendam  perasaanku  layaknya sebuah fosil usang ,aku tak akan menggalinya,
biar rintik menginjaknya jauh  hingga ke dasar bumi paling dalam.

Akhir-akhir ini imajiku kalang kabut, tulisanku keruh tak mengalir,layaknya ada kerikil kecil yang menghambat di pikiranku,
mungkin ini karma
Di takdirkan tuhan berbentuk pena yang kehabisan tinta ?

Aku salah mempuisikan  perempuan juga salah memuja yang bukan milikku, 
terkadang aku  berpikir untuk menjauh seperti yang kau  lakukan,
tetapi luka tak hentinya mengelus dadaku 
Dan satu cara untuk mengenang adalah berpuisi tentangmu.

sudahlah,
Aku tak (ingin) menulis lagi dalam waktu dekat,
Ku matikan leptop lalu berbaring di depan rak,
buku kahlil gibran berjudul "kesunyian" tergeletak menatapku  seakan menantang untuk dibaca  kembali, padahal aku tlah khatam dua kali, lagian  masih banyak buku baru yang belum sempat  aku baca,
tesis dan jurnal perkuliahaanku
Pun masih tersegel tak tersentuh.

"Kau mematahkan sayap-sayapku yang tlah lama patah,
Setidaknya aku masih punya dua kaki untuk belajar berjalan."


Selasa, 06 Juni 2017

Jus wortel bait 12



Bagiku Rintik  serupa suara bel sekolah, sebagai pertanda aku harus ke depan kelasmu,
Benar,
Aku melihatmu menantinya di selasar sekolah,
Tingkahmu seakan mengajarkan sosokmu adalah simbol dari rasa tabah,
iya,
cinta memang butuh ketabahan,seperti kau yang selalu sabar menanti sang pangeran.
Nampak kau berbincang dengan sebuah buku
aku ingin memastikan kenapa bibirmu bergerak dengan cepat,
hei buku apa yang kau baca?

Aku ingin menghampiri,
Seperti gelas teh kemasan yang datang ke  genggamanku,Aku ingin duduk di sampingmu
tuk menghilangkan rasa haus belaian.
Andai aku bisa berdebat denganmu,aku kan menanyakan mengapa kau selalu menangis di pojokan sana,aku pernah mendapatimu terseduh  di depan perpustakaan lama, mata indahmu pucat serupa bunga layu,andai aku tak terlahir sebagai pemalu pasti telah ku sirami bunga di mata itu  dengan sebuah kecupan dikeningmu,
sembari berucap semuanya kan baik-baik saja tik,
kau tak kesepian,
Aku setia memperhatikanmu hingga sang pangeran menjemputmu dengan kereta kencana.

Tak ada kita,
Cuma aku dan pohon yang  menghalangi pandanganku