Rintik kala Subuh
Langit masih lelap ketika ayam jantanku berkokok,
Suaranya bergema menyisir kamarku nan selalu gelap.
Gelap akan cercah embun
Juga gulita tentang keramaian,
Selaku kamar, mungkin ia heran melihatku bergelut tulisan juga kertas saat matahari belum sepenuhnya membuka mata.
Apakah aku mampu memeluk guling saat dekapanku masih milikMu
Yang aku tahu bias kali ini
MenatapKu tajam dari fentilasi.
Foto-fotoMu yang aku rawat dalam handphone masih tertidur manja,
tanpa jeda aku selalu memandangnya saat terlelap maupun terjaga,
Subuh
RinduKu masih ibaratkan buih air saat mendidih,
Subuh,
embun di lautan rumbut
Meneduhkan langit malam
Menyambut jemari matahari
menyematkan cincin bercahaya
Subuh,
saat sunyi aku menyelipkan do'a untuk ingatan bersua,selalu
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Selasa, 31 Mei 2016
04.43
Minggu, 29 Mei 2016
Pelamun langit
Langit,
Tinggalkan aku
penuh CINTA.
Langit,
Ku peluk lunta sang Senja
Lalu tunduk ke kaki awan.
Langit,
dengan ribuan luka-luka
Yang berjudulkan aku dan wanita
Tetapi Berakhir penuh tanda tanya.
langit,
mengapa aku merana ?
aku hanya pinta arti kolosal setia.
Langit,
Aku pemuja senja saat air mata jatuh bagai sayap capung yang patah.
Kolak dan pigura
Minggu di tepi tinta
Meramu baris
Tanpa spasi tanpa kata, cerita dalam kurungan pigura
hanya ingatan saat ramadhan.
Di telaga magrib ,
aku berdiri tanpa malu di teras rumahmu,
Sayup, kerudung merah juga sandal berpita bunga,
CantikMu adinda
aku hanya menggigit bibir bawahKu memandang keindahanMu.
kau melambai
jalan pelan-pelan sambil menatapku penuh rindu
sambil menenteng kolak yang sengaja kau sisahkan untukKu.
Kita berbincang bagai sepasang kupu-kupu bermain di taman asmara.
nyata cinta di malam ramadhan
aku takjub penuh harapan
Mengingat lagi cerita
Entah,akankah masih terulang
Hanya pigura
Gadis dalam kurungan lukisan
daun dalam iringan awan
Cantiknya rindu tertahan
Kemudian aku terjang malu,
HatiKu bertanya ?
mengapa daun harus hijau
walau bunga bebas memilih warna
Mengapa aku harus malu ?
Karena cantikMu membuatku lupa
Rabu, 25 Mei 2016
masih
syair Jangkrik berdendang
mengiringi malam bernyanyi
rindu datang mengelitik
Saat KITA berjalan bagai sepasang anak itik
Dik,
tanpa judul puisiKu,
Ketika garis putus-putus,
KITA menyatukanya menjadi garis horisontal
Aku mengenalMu sangat jauh
Hingga aku lupa cara kembali
Aku meminangMu tiap detik dalam lingkaran jam, namaMu sebagai porosnya, abadi sebagai cinta pertamaKu.
Kamis, 12 Mei 2016
Cenayang
Rumput menadah diri
jumawa Memikul padi
Air mengalirkan sari-sari
Rona rindu kian terpatri
Kicau rembulan bersayup-sayup, berganti ingatkan suasana hingar kerinduan.
ribuan walet mengudara beriringan, kotorannya jatuh di loby utama, bangunan megah yang terikat pada langit,
Kaca paling atas, adalah sang janji terpasung meminta pertemuan
Aku tak mampu meminang rinduMu yang megah,
laksana gedung berbingkai,
aku hanya rumput di kala kemarau
Dengan kaki tertusuk duri-duri
dulu Hijau,berubah warna legam berdaki
Tubuh semampai harus hangus berapi
Tetapi kini,aku bahagia dapatkan rinduMu kembali
Selasa, 03 Mei 2016
Kisah luka
Corak senja genapkan tatapanMu
kerudung merah terhuyung oleh ayunan sore penuh tanda tanya,
Kita yang dulu bertutur santun
Bersapa manja
Bergandengan mesra
Di mana kita yang lalu ?
Apakah menjelma robekan kusam?
TatapanMu bertanya di mana aku selama ini,
Gumamku ;
Aku di bawah awan, merasakan bayangan langit,menikung dedaunan lajuh melambai kemudian jatuh di lumpur cokelat berkeringatkan kerbau.