Selasa, 31 Mei 2016

04.43

Rintik kala Subuh
Langit masih lelap ketika ayam jantanku berkokok,
Suaranya bergema menyisir kamarku nan selalu gelap.
Gelap akan cercah  embun
Juga gulita tentang keramaian,
Selaku kamar, mungkin ia heran melihatku bergelut tulisan juga kertas  saat matahari belum sepenuhnya membuka mata.
Apakah aku mampu memeluk guling saat dekapanku masih milikMu
Yang aku tahu bias kali ini
MenatapKu tajam dari fentilasi.

Foto-fotoMu yang aku rawat dalam handphone masih tertidur manja,
tanpa jeda aku selalu memandangnya saat terlelap maupun terjaga,
Subuh
RinduKu masih ibaratkan buih air saat mendidih,
Subuh,
embun di lautan rumbut
Meneduhkan langit malam
Menyambut jemari matahari
menyematkan cincin bercahaya
Subuh,
saat sunyi aku menyelipkan do'a untuk ingatan bersua,selalu


Minggu, 29 Mei 2016

Pelamun langit

Langit,
Tinggalkan aku
penuh CINTA.
Langit,
Ku peluk lunta sang Senja
Lalu tunduk ke kaki awan.
Langit,
dengan ribuan luka-luka
Yang  berjudulkan aku dan wanita
Tetapi Berakhir penuh tanda tanya.
 langit,
mengapa aku merana ?
   aku hanya pinta arti kolosal setia.
Langit,
Aku pemuja senja saat air mata jatuh bagai sayap capung yang patah.




   


Kolak dan pigura

Minggu di tepi tinta
Meramu baris
Tanpa spasi tanpa kata, cerita dalam kurungan pigura

hanya ingatan saat ramadhan.
Di telaga magrib ,
aku berdiri tanpa malu di teras rumahmu,
Sayup, kerudung merah juga sandal berpita bunga,
CantikMu adinda

aku hanya menggigit bibir bawahKu memandang keindahanMu.
 kau melambai
jalan pelan-pelan sambil menatapku penuh rindu
sambil menenteng kolak yang sengaja kau sisahkan untukKu.
Kita berbincang bagai sepasang kupu-kupu bermain di taman asmara.
nyata cinta di malam ramadhan
aku takjub penuh harapan
Mengingat lagi cerita 
Entah,akankah masih terulang

Hanya pigura
Gadis dalam kurungan lukisan
  daun dalam iringan awan 
Cantiknya rindu tertahan
Kemudian aku  terjang malu,
HatiKu bertanya ?
mengapa daun harus hijau
walau bunga bebas memilih warna
Mengapa  aku harus malu ?
Karena cantikMu membuatku lupa


Rabu, 25 Mei 2016

masih


syair Jangkrik berdendang
mengiringi malam bernyanyi
rindu datang  mengelitik
Saat KITA berjalan bagai sepasang anak itik
Dik,
tanpa judul puisiKu,
Ketika garis putus-putus,
KITA menyatukanya menjadi garis horisontal
Aku mengenalMu  sangat jauh
Hingga aku lupa cara  kembali


Aku meminangMu tiap detik dalam lingkaran jam, namaMu sebagai porosnya, abadi sebagai cinta pertamaKu.


Kamis, 12 Mei 2016

Cenayang

Rumput menadah diri
jumawa Memikul padi
Air mengalirkan sari-sari
Rona rindu kian terpatri

Kicau rembulan bersayup-sayup, berganti ingatkan suasana hingar kerinduan.
ribuan walet mengudara beriringan, kotorannya jatuh di loby utama, bangunan megah yang terikat pada langit,
Kaca paling atas, adalah sang janji terpasung meminta pertemuan
Aku tak mampu meminang rinduMu yang megah,
  laksana gedung  berbingkai,
aku hanya rumput di kala kemarau
Dengan kaki tertusuk duri-duri
dulu Hijau,berubah warna legam berdaki
Tubuh semampai harus hangus berapi
Tetapi kini,aku bahagia dapatkan rinduMu kembali






Selasa, 03 Mei 2016

Kisah luka

Corak senja genapkan tatapanMu
kerudung merah  terhuyung oleh ayunan sore penuh tanda tanya,
Kita yang dulu bertutur santun
Bersapa manja
Bergandengan mesra
Di mana kita yang lalu ?
Apakah menjelma robekan kusam?
TatapanMu bertanya di mana aku selama ini,
Gumamku ;
Aku di bawah awan, merasakan bayangan langit,menikung dedaunan  lajuh melambai kemudian jatuh di lumpur cokelat berkeringatkan kerbau.