Rabu, 12 Agustus 2015

Pundak purnama

Lelaki dari pundak purnama
Tergelantung terbawa angin
Jika rumput bisa hidup di awan
maka hujan jatuh dari bawah
  Suil-suil kecapi bertabuh indah bersama air mata pedih
larut nan terik piluh kecut keringatKu  
batik kusut dan sarung putih terbawah bersamaKu
menari - nari di atas purnama, tertawa lepas tanpa ada masa lalu masa depan (lagi) 
Aku tertawa, riang ,tepuk biar awan tertawa melihatKu,
Tangis derita melihat pundakKu penuh mimpi tanpa buih
Kecapi terus mendesah
Aku dan purnama
Tanpa ada cinta
Aku mampu bahagia
Sendiri di atas purnama
Tak harus luka karena manusia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar