Minggu, 23 Agustus 2015

Tak

Engkau begitu TAKjub dengan tampan hina sepertinya(kau sebut kekasih), mengekor ibaratkan anak itik,memuja bagai budak fir'aun
Engkau tak tahu wanita,kisah  cintaMu yang menjauhkan adam dari surga,cintaMu yang menyatukan rindu serta harapan.
Tetapi ?
Engkau berlutut  jatuh menyentuh lumpur kegagalan,.
Melepuh bersama cinta yang telah membusuk
Kasihan buatMU wanita
Air mata kembali bersujud dari rona pipiMU karena satu belatung yang kau sebut itu"kekasih"
kasihan buatMU wanita


Selasa, 18 Agustus 2015

Bunga

KAu kah itu?
Wanita dari rumah panggung
Menengok dari jendela kayu
Kerudung batik tanpa riasan
Menolak tangan di atas landai
  Kau kah itu?
  Bermandikan sunyi kunang-kunang
  Tersenyum  sipuh memecah senja
  Ku telan ludah  menatap parasMu
  Ku gigit lidah melihat senyumMu
Kau kah itu!!
Debu enggan menyentuh tubuhMu
Angin beriring mengecup keningMu  
bunga
Pandanglah 
Daun menatapMu
TersenyumLah
Bunga
Daun memujaMu


 


Rabu, 12 Agustus 2015

Pundak purnama

Lelaki dari pundak purnama
Tergelantung terbawa angin
Jika rumput bisa hidup di awan
maka hujan jatuh dari bawah
  Suil-suil kecapi bertabuh indah bersama air mata pedih
larut nan terik piluh kecut keringatKu  
batik kusut dan sarung putih terbawah bersamaKu
menari - nari di atas purnama, tertawa lepas tanpa ada masa lalu masa depan (lagi) 
Aku tertawa, riang ,tepuk biar awan tertawa melihatKu,
Tangis derita melihat pundakKu penuh mimpi tanpa buih
Kecapi terus mendesah
Aku dan purnama
Tanpa ada cinta
Aku mampu bahagia
Sendiri di atas purnama
Tak harus luka karena manusia


Rabu, 05 Agustus 2015

Puteri malu


Awan pijar sebagai pelindung kerudungMu  ,semut hitam pelindung tapakMu
Tersipuh manis nan manja
Engkau tatap daku dari pilar pagoda cinta
Gelombang rindu teruntai
Ku petik daun kering  simpul dengan harapan
Langkah penuh langkah ku jajarkan wajahku dengan paras indahMu
Ku genggam engkau tetapi masih saja tertunduk bagai puteri malu.


Selasa, 04 Agustus 2015

Trilog Sebi

Sambut pagi dengan kenangan tanpa tuan, aku ingat saat semua angan menyatu ibarat pantai  dan senja
  Mampukah engkau beranjak dari kamar sepi tanpa sebercah janji, terkekang bisu dengan tangan orang lain? 
Terlunta raga mengingat parasMu yang dulu adalah punyaKu, ibarat sebelah sepatu ,tak berarti tanpa sepatu kanan yang engkau lempar ke dasar lembah kenangan.
Engkau lupa bahwa luka tetap menyatu dengan iringan rintik hujan
Biarlah daku beranjak penuh penyesalan.