"Kubangan tak bernama danau,
Meski berisi genangan,"
petang kemarin, dengma melangkaui setapak, melaju di gorong-gorong pembatas kota,
ia bersepeda bukan ingin Menitihkan keringat,
tetapi ia menuntut filosofi mengayuh dari sepasang kaki.
"Aku merindui ibarat fixie,
susah di remnya,"
Gombalan untuk ombak.
Dengma beropini buat apa ia mengharapkan sesuatu yang tlah bahagia,
mengapa ia mengingat sesosok perempuan yang memilih tersenyum diatas rasa sakitnya, dengma tak ada hak untuk kembali melompat,
dengma tak pantas memiliki,
di bandingkan dengan dia,
Dengma ibarat rumput kering yang tak tahu apakah akan hilang di tenggelamkan kemarau,
atau mati terinjak di kubangan hujan.
Dengma hanya ingin tahu keadaan ombak, ia berharap ombak tak melampaui bibir pantai.
Sebenarnya dengma tak menyukai instrumen menghentak,
kata orang mendengarkan lagu keras bagus untuk mengembalikan "mood" yang hilang,
sebagai penyeimbang ia menyelipkan nyanyian melan di list musik yang ia dengarkan.
"Danau ini belum bernama," katanya,
"aku berangan mengajakmu ke sini membuka tenda
Meneropong senja,
Danau telah menyediakan dua cangkir teh hangat untuk kita,"
"hanya kita berdua,
kau dan aku,"
dengma memang suka mengkhayal.
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Rabu, 17 Mei 2017
dealova Dengma dan ombak bait 4
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar