Senin, 24 Oktober 2016

Pandirasa



mungkin Buatmu aku hanya Pena yang kehabisan selubung tinta,
Tak lagi berguna,
Sebatas penghias meja atau
penghuni tempat sampah,
Hina.

Persetan,
Biarkan,

bagiku kau selalu menjadi kertas di penghujung diktat skripsi
Lembaran berwarna jingga berisikan nama pemilik segala pujian.


Kamis, 20 Oktober 2016

Jeluk ramai bait 3



Pemandang gerak Panorama dahan,membuatku berasa animasi ketenangan,
Ketika memandangi pusparagam langit lebih asyik dibanding bermain dengan awan.
Aku lebih memilih menebak seberapa desibel suara angin sembari bersiul dikursi goyang,ketimbang mengunjungi caffee agar terlihat kekinian,

sebelum memulai rutinitas, aku biasakan Membalas senyum perkutut, yang selalu menyapaku dalam sangkar kayu.

Tak luput pula tunduk ke arah liontin pemberianmu, sebagai riang pemanis laksana kental madu dalam cangkir teh pagiku.


Selasa, 18 Oktober 2016

Luka perana

Di kamarku kini mendung
Awan gelap menyelimuti
Suara cicak laksana rintik,
Mengingatmu,
Rasa-rasanya turun hujan

aku ibarat pohon yang engkau tebang menggunakan silet,tergores hari demi hari membuatku tumbang perlahan, menerpa duri belukar.

Tiap prosa untukmu
Aku jadikan Pesawat origami,
entahlah
hembusan angin menyampaikan tulisanku atau malah meniupkannya ke arah pembuangan limbah.

Aku juga tak pandai bermain harmonika,
Atau melantukan nada syurga
Aku hanya mampu menyusun huruf
Menjadikannya kata "luka".
Hina.


Senin, 17 Oktober 2016

Yuana



Yuana  dipintu kolong
Memandangi cercah cahaya, bagai   mengintai bola benang,
sesekali pula mengelus karpet,
Tatapan imut,seirama kumisnya yang  menggemaskan,

Aku Bergumam tawa
Betapa lucunya spesies ini
sembari meneguk teh pagi.

Terima kasih yuana,
tingkah polosmu telah menghardik ingatanku tentang mata sipitnya.


Selasa, 11 Oktober 2016

Telaga pelangi

Aku menyukai situasi dirakit terapung,memandangi gerak vertikal batok yang jatuh,
menyentuh dangkal sungai,
Membuat Air tadinya mematung dibuatnya teriak terpercik.

Terdengar pula
suara-suara  hembusan, bagai jemari menggelitik,membuatku terkekeh menawan.

pandanganku terkunci pada
bayang bulan diatas sungai,
terlihat sosokmu menyerupai pancaran bintang diantara lumut,

Terpendar sosok sipitmu laksana perahu ditengah telaga pelangi.




 









Sabtu, 08 Oktober 2016

Rumput dan daun bait 1

Rintik berteduh diteras depan,
berpangku tangan sembari mendengar perbincangan antara daun dan rumput.

Daun :  "menurutmu embun cemburu kepada hujan? "

Rumput: "tidak,ia lebih deras dari air terjun sekalipun"

Daun:  "hei lihatlah bungaKu  berguguran"

Rumput:  "benarkah?,aku akan memeluknya sebelum ia membusuk"

Daun : "hujan membuatmu menjadi kubangan"

Rumput : "aku tetaplah permadani  meskipun berbau keringat kerbau"

Perkataan rumput menjadikan daun kemarau ditengah hujan.


Rabu, 05 Oktober 2016

Rabu



Senin semasa SMA
Ingatku kita terjebak upacara
engkau bertugas menggerek bendera,
Aku memandangimu penuh bahagia,
bangga,
meski itu rahasia.

Selasa,kala rincing bel berbunyi, ibarat bunga matahari, aku berfokus ke arah pancar sinar mata sipitmu,
Mengawasi dibalik selasar pot 
sampai akhirnya kita berpapasan, sekilas aku merasakan hujan, 
Ingin rasanya  melambatkan detik agar rintiknya jatuh perlahan.

Aku menyukai sekolah dihari rabu,
Kita bersua digerbang putih abu-abu,
aku setia Menunggumu pulang,
Meski lelaki lain yang mengawalmu  datang.