Sabtu, 26 Maret 2016

01.50 wita

            
Di sisi malam
Berselimut iringan daun
Kertas juga percikan tinta
aku memujaMu lewat puisi
Di langit siang
Suasana hingar di depan rumah
Anak kecil berlalu ibarat  semut,sembari menikmati kenyataan,bahwa  aku tidaklah berkutik di paras kerudungMu,
kulitMu putih nan indah,
wajahMu cantik nan jelita,
senyumanMu hangat bak lentera
di hadapanMu
aku laksana pena tanpa tinta, berbentuk tetapi tidak berguna, hidup tetapi terluka.
Di malamKu
aku berbaring di hadapan  jam kertas
jarum kecilnya  selalu menghinaKu, mengapa lembah begitu sunyi, ketika sang ratu menoleh di balik  kerudungnya .
Di pukul 01.50 WITA
Aku menatap langit
Sebab senja tetaplah terbit walaupun itu lusa,
aku berharap
Untuk
awan berbentuk cinta
Di balik malam yang gulita



Rabu, 23 Maret 2016

Rindang

rintiknya bening merayu senja
bersua dengan suara gemerincik
Hujan
aku berharap tetesanMu tabir dari  langit tuk  mengikat rindu
Juah dari air mata temu
Hujan
Aku rindu melodi rintiknya
Aku rindu  rumbut menyambutMu
Hujan
aku berharap rinduKu menepi mendengarkan alunan rintikMu bagai kendaraan roda dua di jalan raya
Hujan
Aku menanti untuk menangkap rindu ibarat cicak dan mangsanya
Hujan
BuatKan aku langit penuh bintang, buatkan  rintikMu  menggelantung di hadapanku nan bias wajah kekasihku di dalamnya
Hujan
Aku merindu
Dalam tiap tetesanMu
Hujan
Aku butuh pelangi
Sebagai penutup untuk rinduKu


Rabu, 16 Maret 2016

Rana

Rindu nan mati
akan hancur bersama ketenangan yang abadi
sesuai janji
Untuk kembali
mengusik rasa dusta tentang kalimat janji
Aku tenang dalam damai, begitu lah kata yang sering aku dengar, kembali untuk memulai
tetapi  jingga berfikir?
bagaimana cinta  luntur hanya karena rasa egois? 
Rindu yang telah lama aku rawat,hingga hanya menjadi  gula pasir yang tidak larut di nampan kacaku
Jingga tak berarti jika hidup hanya dalam bayang ilalang kebencian, jingga akan sirna oleh garis yang di namakan waktu,
Biarkan saja..  aku melawan arah, kembali ke parit piluh yang penuh dengan janji serapahmu,
Diamlah selagi langit bisa
diamlah dalam damai
Sebaris kata yang aku gores saat ini hanya sebagai bukti bahwa jari yang ku gunakan sebagai ironi dari rasa sakitku
Aku hanya berharap kelak nanti, 
Ribuan sayap merpati akan jatuh di  rambutmu, saat itu tiba aku telah berlari dalam keramaian.serta tak perlu lagi mengingat dusta dan ribuan teka teki bungkam dari mulutmu.
Denting suara sakit makin menggila di otakku , lagi ke mana akan ku lampiaskan ?
akankah aku benturkan  kepalan tangan ke tembok sepi itu, ataukah aku harus mencari cinta dalam senja ?? 
 
Aku tak mengharapkan mawar  yang aku berikan itu kembali,
Aku hanya pinta duri dari ribuan mawar di bumi.

Lekaslah
Biarkan  aku terlelap
Biarkan  aku merasa ramai
Biarkan aku merasa salah
Karena
Senja tetap diam dalam damai


Kamis, 10 Maret 2016

Remah


bisu dalam fisik
Hangat saat sore
Terbenam saat air pasang
Hilang, lalu terbawa hujan
Tangkap cahayanya
Saat riuhnya begitu hening
Di sepinya
Aku di buih dalam letih
          -     Senja     -

Masa saat matahari masih berbentuk sepi,lalu ku rapikan ribuan embun demi melihat pemberianMu
Tertutup pita cokelat, di pinggirnya ada corak bunga
aku masih merasakan nikmatnya suasana cinta
lupa derasnya hujan di teras depan,
aku hikmat dalam pelukan mata sipitMu.
   dekapanMu adalah saatku bahagia,
SayangMu mengalir bagai jernihnya warna senja
Lantas kau memberikanKu kado berpita bunga
lantas ???
aku
hanya gantungan kunci berbentuk rindu
Hadiah dari ingatanku saat itu.


Senin, 07 Maret 2016

terik Camar

Dengarkan camar
Mendendangkan kutipan
puitis buat betina, turut
Menanti di sarang,
Tetapi ia memilih langit,karena rindu membuatnya Merasa hina.

laksana perindu yang memburu pertemuan
tanpa pembatas jarak atau hari,
Fisik yang lelah, begitu pula sore yang menidurkan semangat,
Kembali menghirup langit
Saat.
larut dalam iringan lagu
WaktuKu bertukar dengan setapak
Aku memberinya debu,
dia memberikan ingatan
aku mengharapkan keringat
dia memberikanku penyesalan
sepeda Jingga nan berlalu, sebab
letak namaMu dalam awan,
Jujur,aku membenci langit saat senja.
Langit tanpa malu menghina perpisahanKu.
Awan tanpa sadar menghina langitKu.,
Awan,langit juga namaMu
korelasi indah buatku jatuhkan air mata.