Sabtu, 18 November 2017

Dikte



Bebatuan langit  seolah mendekati
pijarnya berkedip seakan menggodaku untuk mempuisikan ketenangan
suhu malam mengigilkan teras, yang sedari tadi diguyur deras.
angin sehabis hujan juga suara tetesan air melengkapi suasana setenang alunan biola.
raung motor melesat diantara tiang jalan mengganggu lampu lalu lintas yang sedang bersajak, Hingga dia kehilangan rima hijau dan kuning,menyisahkan warna merah saja,
Merah tanda berhenti.

pelukan remaja perempuan masih terasa hangat begitu romantis, walau ada air mata menetes di punggung lelakinya,
aku masih menghembus pelan, sangat pelan,
hingga tulang di lenganku tak menyadari aku menulis kisah tangis malam ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar