Selasa, 28 November 2017

Dua sembilan

"Cahaya menerangi meski tak berwujud sekalipun, 
Cahaya bukan silau penerang
cahaya hanya melaksanakan tugasnya; memberi petunjuk,
Setelah itu,
terserah nalar akan beranjak atau tetap berpijak",

Saya tak pandai  bereaksi  setelah badai,
nalarku pun dilema apakah harus bahagia atau malah merindui gemuruh rintik.
buatmu saya Ibarat perahu  yang menyukai terombang di atas  ombak,Mengganggu hempasan  bahagiamu yang ingin menggapai tepian, tempatmu menunggu cahaya lembayung setelah melewati hari yang melelahkan.

sekali lagi Cahaya bukan sesuatu yang bersinar dari nyala gedung perkotaan,
Cahaya berasal satu hembusan  pengharapan
Cahaya adalah nyala lilin ulang tahun.


Sabtu, 18 November 2017

Dikte



Bebatuan langit  seolah mendekati
pijarnya berkedip seakan menggodaku untuk mempuisikan ketenangan
suhu malam mengigilkan teras, yang sedari tadi diguyur deras.
angin sehabis hujan juga suara tetesan air melengkapi suasana setenang alunan biola.
raung motor melesat diantara tiang jalan mengganggu lampu lalu lintas yang sedang bersajak, Hingga dia kehilangan rima hijau dan kuning,menyisahkan warna merah saja,
Merah tanda berhenti.

pelukan remaja perempuan masih terasa hangat begitu romantis, walau ada air mata menetes di punggung lelakinya,
aku masih menghembus pelan, sangat pelan,
hingga tulang di lenganku tak menyadari aku menulis kisah tangis malam ini.


Kamis, 02 November 2017

Aul.

"Jika kau tak menemukanku hari ini,barangkali aku masih ada dihari kemarin, menantimu
kembali,

Jika kau mencariku dikala sore mungkin saja aku ada diantara sepasang remaja yang  mengabadikan nama terbingkai pasir pantai,


jika kau belum menemukanku, alihkan pandanganmu kearah pawana nan jauh!
Aku lagi asyik-asyiknya mempuisikanmu di bawah rayu pohon kelapa",

(Saya tulis dibagian akhir buku catatan,sambil berayun diatas hammock, di samping sebuah biola dan teh tarik kemasan saya biarkan saling menatap , sebuah gantungan kunci saya haruskan di tempatnya)