Minggu, 15 Oktober 2017

Jus wortel bait 15

Dedaunan mulai menunduk, cepatlah!, rintik kan menerpa kerudungmu,
Rintik berharap bisa merobohkan kekagumanku,
tanah yang  kokoh sebentar lagi pasti kan menjelma saus kacang berwarna cokelat lezat,
Hujan datang bertamu.

Seperti hari-hari sebelumnya ketika suara bel berdering,saya  menenangkan diri sambil berharap kau lewat di selasar sekolah, saya selalu mencari celah untuk bisa memandangimu dari kelas terjauh ibarat seorang sniper yang setia  meneropong target buruannya,
Seketika saya mendengar suara cemprengmu(maaf), tiba-tiba pula badanku kaku membeku,
Sungguh,  bodoh !
tiap kali kau berada di radarku,
Saya selalu diam tak berkutik !! Damn !?
.............................................................
sebuah keberhasilan saya bisa  mengurai tulisan di depan kelas ,untuk pertama kalinya saya memberanikan diri  mengacungkan tangan untuk menjawab  soal yang tertera di papan tulis,

" Andai menyapamu  semudah  mengangkat tangan" ,

"Aku berpikir mengapa di papan  selalu tertulis hal-hal yang membosankan seirama dengan rintik yang kian  jatuh sangat cepat,
di satu sisi nalar menjawab
Mengapa hujan diharuskan bertamu jika aku tak bisa menyapamu (sekali saja)?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar