Dedaunan mulai menunduk, cepatlah!, rintik kan menerpa kerudungmu,
Rintik berharap bisa merobohkan kekagumanku,
tanah yang kokoh sebentar lagi pasti kan menjelma saus kacang berwarna cokelat lezat,
Hujan datang bertamu.
Seperti hari-hari sebelumnya ketika suara bel berdering,saya menenangkan diri sambil berharap kau lewat di selasar sekolah, saya selalu mencari celah untuk bisa memandangimu dari kelas terjauh ibarat seorang sniper yang setia meneropong target buruannya,
Seketika saya mendengar suara cemprengmu(maaf), tiba-tiba pula badanku kaku membeku,
Sungguh, bodoh !
tiap kali kau berada di radarku,
Saya selalu diam tak berkutik !! Damn !?
.............................................................
sebuah keberhasilan saya bisa mengurai tulisan di depan kelas ,untuk pertama kalinya saya memberanikan diri mengacungkan tangan untuk menjawab soal yang tertera di papan tulis,
" Andai menyapamu semudah mengangkat tangan" ,
"Aku berpikir mengapa di papan selalu tertulis hal-hal yang membosankan seirama dengan rintik yang kian jatuh sangat cepat,
di satu sisi nalar menjawab
Mengapa hujan diharuskan bertamu jika aku tak bisa menyapamu (sekali saja)?
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Minggu, 15 Oktober 2017
Jus wortel bait 15
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar