Selasa, 19 September 2017

12.13

Tlah kutitipkan sepasang sepatu bertali,
aku berharap kau menyimpulnya kuat-kuat,
Sebelum kau menggunakannya melangkah; pergi,
Hei,
kenanglah sesosok sepertiku yang menyerahkan sepasang sepatu tanpa berani mengikat kedua ujung talinya,
andai saja kau tersandung,
kau perlu menyalahkanku,
tak harus menyalahkan pemberianku.


Sabtu, 09 September 2017

Vakansi ke pare bait 4

"Perkutut nyaring
ciutan melengking, 
dengan harap seseorang melepasnya dari kurungan,"

saya dan kebiasaan 'aneh'  selalu memperhatikan tiap jengkal sisi ruangan ketika mengunjungi  tempat yang baru,  serupa seorang gadis penuh teliti  memperhatikan sepatu  yang akan di belinya.

saya menulis prosa ini di teras rumah kenalanku,
Mataku terpana melihat perkutut yang dia pelihara,
Jujur saya bisa merasai betapa nelangsanya terkurung
hanya Terdiam, sesekali mengepakkan  sayap seolah-olah berlatih untuk terbang,
mungkin ia berpikir  dikalau saja suatu hari  bisa menggunakan sayapnya diangkasa,
ia bisa menggunakannya semaksimal mungkin  menyongsong pawana jingga, menggunakan bulu di sayapnya untuk memeluk gigil angin sore,

Saya  terharu pada impiannya yang mengawang,
melayang walau tubuhnya terkekang jeruji sangkar.


Hari ini saya  menghabiskan  remah-remah senja dengan  secangkir jus alpukat,walau rasanya agak masam tetapi tertutupi oleh obrolan manis yang mengasyikkan, : )

" sebab memulai hari tak harus menunggu matahari terbit
 hariku bermula ketika senja perlahan mengayun rendah,
Menenggelamkan hari  kemarin berganti niur udara esok "


Senin, 04 September 2017

septe



Jangan meliburkan hari di bulan september agar aku bisa bekerja  selama mungkin,
Di keesokan harinya tetap sibuk, tanpa kesempatan pesta minum teh,

kalung-kalung bambu tak ada,kini decitan monoton printer mengeluarkan lidah menjadi sirkus di nalarku,

Aku
terkurung
Ayolah !


Seseorang pernah berjanji
Tak tahu kapan menepati
Biarkan kumenepi

Menghalau gerimis di pipi
Setelahnya aku biarkan dia
Bermimpi

Biarkan aku tetap sibuk selama mungkin,
berupaya menutupinya dari mimpi-mimpi.


Jumat, 01 September 2017

Vakansi ke pare bait 3

Periksalah pintu dan jendela,
Apakah pagi datang terlampau dini?
Atau kelopak mataku selalu sunyi?

Satu prosa yang  belum saya beri  judul,
Saya tak tahu kenapa nalar tiba-tiba  merayu jemari untuk menari, padahal  nyanyian kantuk mulai berbisik pelan di telinga,
Suasana dini hari di kota pare  berbeda jauh dengan kota asalku,  di sini raung-raung  knalpot masih terdengar,sedang di tempat asalku pasti  semua bising sudah tertidur,
Disini gerobak gorengan masih menggoda pembeli dengan 'kriuk'  pisang di atas  wajan yang berisikan minyak goreng,
Di kota asalku penjual gorengan pasti sudah bermimpi bertemu dengan calon pembelinya ,

"Tetapi genangan air di pinggiran kedai,serupa tetesan air  hujan di tempatku,"

sebentar lagi Langit  kan berganti subuh, masjid mulai melantunkan  tadarrus membangunkan manusia beriman untuk berwurdhu,
barukali ini saya terjaga seutuhnya, tak tidur seharian,
fisik tak nampak kelelahan mungkin karena asupan protein tawa malam tadi,
Salah satu kawanku di komunitas standup comedy sukses membuat tawa"pecah"di shownya,
Saya menikmati caranya berbagi keresahan di atas panggung, act out-nya keren, diksinya 'ngena' dan closing bittnya Memaksa  penonton untuk berdiri bertepuk tangan, :  )
Di venue malam tadi saya merasa terhormat bisa diundang juga  ikut "perang tawa" dengan para orang gila yang santun.

Langit mulai berisi warna
,perlahan nampak tudung matahari memulangkan rasa kantuk, ibarat asap rokok yang terbang ke angkasa,

seperti menatap mata pagi,
Saya selalu  berharap pada temu yang tak di sengaja,
Perjumpaan sepasang mata yang tak di sangka-sangka.