Kantuk mengusik
Mata berdebar cepat dari biasanya,
angin Rindu mendatangkan gelisah,
bagai secuil tulang ikan tertahan di tenggorok.
Menampik, sheila sebagai musik penghantar mengingatmu,
suara engsel jendela terbuka,
Terpana menghirup bintang tenggara,
Redup menguning diufuk angkasa.
Menyerap suara binatang menidurkan rembulan membuat sampan nelayan terombang tak menentu,
begitu jalanku mengingatmu.
Aku nyalakan sebatang rokok hembusan buihnya membentuk liontin,
asapnya sopan bak menunduk
Memohon maaf atas racun nikotin.
Serupa itu caraku melepasmu.
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Selasa, 17 Januari 2017
malam raksa
Selasa, 03 Januari 2017
surat dari simpang jalan
suasana subuh dihari rabu damai oleh rintik gerimis, ibarat mendengarkan ketuk jemari pianis yang melantunkan roman sederhana.
Jalan masih sepi,saat aku pulang, menyisahkan kantuk juga ingatan tentangmu dimeja kerja,
di simpang tiga lampu jalan
Bohlam berkedip sesekali, aku memanaskan mesin imaji, inilah keindahan hujan sebelum pagi.
membenamkan mata,
sejenak mengikuti sifat tiang penyangga jalan,berdiri mematung, tanpa sadar aku mengingat gelak senyum yang membuat wajah bulatmu menggelembung menggemaskan.
"Aku ingin mengulangnya"
Langganan:
Komentar (Atom)