Selasa, 17 Januari 2017

malam raksa

Kantuk mengusik
Mata berdebar cepat dari biasanya,
angin Rindu mendatangkan gelisah,
bagai secuil tulang ikan tertahan di tenggorok.

Menampik, sheila sebagai musik penghantar mengingatmu,
suara engsel jendela terbuka,
Terpana menghirup bintang tenggara,
Redup menguning diufuk angkasa.

Menyerap suara binatang menidurkan rembulan membuat sampan nelayan terombang tak menentu,
begitu jalanku mengingatmu.

Aku nyalakan sebatang rokok hembusan buihnya membentuk liontin,
asapnya sopan bak menunduk
Memohon maaf atas racun nikotin.

Serupa itu caraku melepasmu.


Selasa, 03 Januari 2017

surat dari simpang jalan

suasana subuh dihari rabu damai oleh rintik gerimis, ibarat mendengarkan ketuk jemari pianis yang melantunkan roman sederhana.

  Jalan masih sepi,saat aku pulang, menyisahkan kantuk juga ingatan tentangmu dimeja kerja,

di simpang tiga lampu jalan
Bohlam berkedip sesekali, aku memanaskan mesin imaji, inilah  keindahan hujan sebelum pagi.

membenamkan mata,
sejenak mengikuti sifat tiang penyangga jalan,berdiri mematung, tanpa sadar aku mengingat gelak senyum yang membuat wajah bulatmu  menggelembung menggemaskan.

"Aku ingin mengulangnya"