Siang,
Sebagai lelaki pemujaMu
Yang Berisi dedaunan kering berwarna keriput siput, hawanya gerah merobek kemeja biru sang langit
Siang,
Merekah tanah yang retak
Meniupkan sedikit rindu di selanya
juga, Menyelipkan selembar surat cinta
Siang,
Meresapkan sisah-sisah embun kala subuh,menaburkan rintik-rintik air mata rindu.
Siang,
tatapan piluh nan kosong, awan ibarat payung berupa gumpalan air mata penyesalan.
Siang,
WaktuMu terlelap dari interval rutinitas pagi
WaktuKu terjaga sebagai ucapan terima kasih.
Berbahagialah.
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Rabu, 15 Juni 2016
Intervalsi
Selasa, 14 Juni 2016
Tiap detiknya
hanya Sebulan tiap detiknya beterbangan.
Mengukir aksara dalam gelas berisi rona air mata, tanpa gula pemanis sedikitpun.
70 prosa bergantungan
Laksana gorden di buku catatanku, menghias jendela puisiku
menjadikan kata kian menarik lembar perlembarnya.
6 tahun,yang lalu
ketika cinta masih sosok maha indah,
kita bersua di balik kakunya putih abu-abu,
kita bertukar kata tentang bagaimana bentuk awan kala malam,
Apakah bintang terlelap saat jangkrik berkumandang?
Bagaimana senyuman rembulan saat siang?
atau bagaimana rasa sakit koral ketika terkena tamparan ombak ?
tetapi favoritku saat kita saling menatap dalam hening,
kemudian angin kemarau datang menghembuskan syair-syair romantisnya.
Berbahagialah
Kamis, 09 Juni 2016
Aksalukis
Sayup daun-daun hujan
Menyentuh rona langit
rindu,bagaikan anak kecil
memanjatnya ke pucuk tertinggi
Aku memulainya saat kanvas aksara menyentuh buih-buih rintik subuh,.
Lukisan puitis tercipta
Adalah senyumanMu bagai warna jingga dalam lukisanku
TubuhMu ibarat warna cokelat tanah.
Mengapa jingga dan tanah??
Karena tiap detik aku menanti senja
Tanah,karena aku ingin kau menopangKu tiap masa.