Rabu, 15 Juni 2016

Intervalsi

Siang,
Sebagai lelaki pemujaMu
Yang Berisi dedaunan kering berwarna keriput siput, hawanya gerah  merobek kemeja biru sang langit
Siang,
Merekah tanah yang retak
Meniupkan sedikit rindu di selanya
juga, Menyelipkan selembar surat cinta
Siang,
Meresapkan sisah-sisah embun kala subuh,menaburkan rintik-rintik air mata rindu.
Siang,
tatapan piluh nan kosong, awan ibarat payung berupa gumpalan air mata penyesalan.
Siang,
WaktuMu terlelap dari interval rutinitas pagi
WaktuKu terjaga sebagai ucapan terima kasih.
Berbahagialah.


Selasa, 14 Juni 2016

Tiap detiknya


hanya Sebulan tiap detiknya  beterbangan.
Mengukir aksara dalam gelas berisi rona air mata, tanpa gula pemanis sedikitpun.
70 prosa bergantungan
Laksana gorden di buku catatanku, menghias jendela puisiku
menjadikan kata kian menarik lembar perlembarnya.
6 tahun,yang lalu
ketika cinta masih sosok maha indah,
kita bersua di balik kakunya putih abu-abu,
kita bertukar kata tentang bagaimana  bentuk awan kala malam,
Apakah bintang terlelap saat jangkrik berkumandang?
Bagaimana senyuman rembulan saat siang?  
atau bagaimana rasa sakit koral ketika terkena tamparan ombak ?
tetapi favoritku saat kita saling menatap dalam hening,
kemudian angin kemarau datang  menghembuskan syair-syair romantisnya.
Berbahagialah


Kamis, 09 Juni 2016

Aksalukis

Sayup daun-daun hujan
Menyentuh rona langit
rindu,bagaikan anak kecil
memanjatnya ke pucuk tertinggi

Aku memulainya saat  kanvas aksara menyentuh buih-buih rintik subuh,.
Lukisan puitis tercipta
Adalah senyumanMu bagai warna jingga dalam lukisanku
TubuhMu ibarat warna cokelat tanah.
Mengapa jingga dan tanah?? 
Karena tiap detik aku menanti senja
Tanah,karena aku ingin kau menopangKu tiap masa.