Di sana tempatku bertukar
serta bersandarkan pasir,
Lalu kutantang langit untuk menatap buih tanpa jatuhkan rintiknya
mengingat lagi??
Tepian karang
Mercusuar!!
menoleh ke sana ke mari
berkedap kedip berdiri kokoh di tepian pantai, Aku bukan menara tetapi aku adalah pijar di atas puncaknya,
Yang bercahaya paling terang
Menuntun ke tepian karang
Tempat pertemuan dengan orang tersayang
demi lalu yang tiap senja aku puja, secuil butirnya pun masih terasa ,
Tiap lalu
Aku di depanMu
Tiap waktu
Aku menitMu
Tiap hari
Aku merinduMu
Tiap cerita
aku kalimat penutupMu
Lalu
Aku tidak ingin mengulangnya hanya waktu mengingatkan tentangMu
Lalu
Dengarlah bait kataKu
Lalu demi untukMu
Aku masih menopang rindu
lepaslah kekasihmu jika itu tentang fisik tapi peluklah kekasihmu jka tentang tentang ingatan karena cinta bukan tentang fisik tetapi tentang ingatan .
Rabu, 24 Februari 2016
lalu
Selasa, 16 Februari 2016
Lokaranda
lokaranda
Di selatan bukit loka
Aku rindu riuh suasananya
rindang pohon Di antara susunan semilir pasir,
hamparan awan peneduh laksana ombak
Tempatku memulai cerita
Bukit loka nan jernih, liung bagai angsa putih
Kebun berbaris ibarat pelangi
Gerbang kota riuh melambai,
Di selatan tempatku
tuan
Teduh rindu tak terhingga
Kampungku
Tuan???
Malamnya indah
Tuan???
Sorenya jingga
Tuan !!!!
Mahkota jingga di ujung senja
Ikan melompat bagai ilalang
Rumput di mana mata memandang
Bantaeng indah tuan
Bantaeng nan pasti di kenang.
Kamis, 11 Februari 2016
Pinta
Pinta
tentang rintik sore
Terlalu indah
terhanyut dalam butir airnya, menyepi di sinar senja
menatap jingga
februari bulan pencinta hujan
jatuh laksana skripsi serta berbagai bentuk hilirnya
Di mana hariku hanya untuk memuja sejuknya awan serasi dengan tiap janji pertemuan
Aku masih di titik yang sama
Di bawah hujan, tanpa payung
Hanya
Lembaran kertas
Laraskanlah dinda antara aku dan hujan??
Aku takkan lagi menulis huruf di kertas
Aku lebih memilih menjadikanya pesawat dengan huruf namaMu sebagai juru mudinya
ku sasar langit kemudian
terbanglah
menyelinap sepinya lampu taman.
Jumat, 05 Februari 2016
Laras
Di balik cermin
sepi itu datang
Di balik cermin
Tertindik perih tanpa sekali pun menyapa,
Di balik cermin
Ku bungkam kisah saat terbawa suasana sekolah
Di balik cermin
Loteng yang selalu ku tatap
Meja kayu tempatku berpangku tangan.
Laras itulah namaMu kini, saat ingatan ku masih terbawa senja,
di jalan tadi,mungkin imaji ku saja, tetapi tak hentinya hanya wajahmu yang terbayang, ikutlah
ku harap lesung laras masih di sana menoleh dari balik jaket,ingat kisah kita ???dan ribuan rintik air ketika aku adalah payung dan kau berlindung di dalamnya.
Cermin lihatlah aku masih dalam laras. Aku masih tetap menanti hingga jingga sunyi di balik senja.