Selasa, 29 Desember 2020

familia

 kata orang ikan cupang adalah puisi yang mampu berenang,maka keluarga serupa kumpulan cerpen yang tidak mampu diberi judul.

Kamis, 10 Mei 2018

Enggan-enggan di air keruh

Berenggan-enggan beranjak di air keruh ibarat kerbau yang merendam di kubangan lumpur, masa bodoh dengan kucing anggora yang tampak bersih,
si kerbau tetap asyik dengan rutinitasnya.

Berenggan-enggan beranjak di air keruh,
Serupa layar yang retak tetapi tak di perbaiki,
masa bodoh orang lain berkata apa, jelasnya si pemilik tetap bisa berkabar pesan lewat handphone rusaknya.

Berenggan-enggan beranjak di air keruh,
Andai saja aku bisa melangkah tanpa harus mengeluh.


(saya tulis ketika pulang dari tengah hutan, handphone saya rusak terjatuh dari ransel,  suasana di posko gelap hanya pelita petromaks lengkap dengan nyamuk sawah beterbangan di sekitarnya)


Rayu

Di suatu sore aku sedang menghitung berapa banyak dedaunan yang gugur di rayu angin,
Ketika hitunganku tlah ada di angka puluhan,

Tiba-tiba kau ada di depan rumah sambil menghitung berapa banyak urat yang muncul di pipimu  ketika tersenyum ke arahku,

Apakah aku harus melanjutkan hitunganku, atau membalas rayuanmu ?


Sabtu, 31 Maret 2018

Durian


Tiap kali meremas pasir, 
mengapa  rasa-rasanya aku memegang buah berduri dengan bau yang menyengat,
Bukan pasir itu lembut, juga anggun ?
Apa yang salah ?

aku suka mengenangmu,
Tetapi aku benci memegang buah dengan durinya yang menusuk nalarku.

Aku ingat  membuatkanmu puisi,
Tetapi aku benci melihat orang-orang  memakan buah dengan bau yang menghardik ingatanku.

Aku tahu kapan terakhir mengantarmu pulang,
Tetapi aku tak menyukai jalan yang banyak terpajang buah durian.

Kita yang salah,
Siapa yang mulai lupa memberi kabar.


Selasa, 26 Desember 2017

Sapa ? ,ah kamu.







gerah bertambah
Awan menutup tudungnya
Terik menari di atas nara
pantai seperti padang tandus
Dan ombaknya hanya mataforgana

Siang ini tak disangka panas sampai petang, 

kiranya sapa "hei" mu datang tiba-tiba

Matamu seakan bersajak,
Sepanjang hari aku ingin membacanya.


Selasa, 28 November 2017

Dua sembilan

"Cahaya menerangi meski tak berwujud sekalipun, 
Cahaya bukan silau penerang
cahaya hanya melaksanakan tugasnya; memberi petunjuk,
Setelah itu,
terserah nalar akan beranjak atau tetap berpijak",

Saya tak pandai  bereaksi  setelah badai,
nalarku pun dilema apakah harus bahagia atau malah merindui gemuruh rintik.
buatmu saya Ibarat perahu  yang menyukai terombang di atas  ombak,Mengganggu hempasan  bahagiamu yang ingin menggapai tepian, tempatmu menunggu cahaya lembayung setelah melewati hari yang melelahkan.

sekali lagi Cahaya bukan sesuatu yang bersinar dari nyala gedung perkotaan,
Cahaya berasal satu hembusan  pengharapan
Cahaya adalah nyala lilin ulang tahun.


Sabtu, 18 November 2017

Dikte



Bebatuan langit  seolah mendekati
pijarnya berkedip seakan menggodaku untuk mempuisikan ketenangan
suhu malam mengigilkan teras, yang sedari tadi diguyur deras.
angin sehabis hujan juga suara tetesan air melengkapi suasana setenang alunan biola.
raung motor melesat diantara tiang jalan mengganggu lampu lalu lintas yang sedang bersajak, Hingga dia kehilangan rima hijau dan kuning,menyisahkan warna merah saja,
Merah tanda berhenti.

pelukan remaja perempuan masih terasa hangat begitu romantis, walau ada air mata menetes di punggung lelakinya,
aku masih menghembus pelan, sangat pelan,
hingga tulang di lenganku tak menyadari aku menulis kisah tangis malam ini.