Senin, 14 November 2016

Ajak aku ke prau bait 2



senja Tak lagi berombak , 
jingga menjelma gemuruh mendung penghantar kepergianmu.

Biarkan suara hujan 
menyampaikan puisi-puisi terakhirku,

Kita tak setara menyebut cinta
Aku mengenangmu lewat luka
Kau mengingatku bernama hina

canangkan di benakmu
Selamanya kau adalah prau
Tempatku memandangi sore terbaik.


Sabtu, 05 November 2016

Kejar

pengejar layang-layang
Bersorak tak beralas kaki
Mengekori matahari
Lantang berlari
Tak henti.

Engah-engah dipadang berantah
mengotori hijaunya karpet dengan tetesan Keringatnya,
Ia menoleh ke sisi langit seakan  mengadu perihal sulitnya mengejar bayangan awan.


Rabu, 02 November 2016

Lembayung bait 4

Aku menaruh perhatian pada pola artistik rintik hujan,
Melihat titis penuh khidmat bagai memandangi pesona air mata,  
Langit, awan berhias kesedihan  persepsi puitis para pujangga.

Dihalaman nampak sebelah terompah kehujanan, aku heran mengapa ia tak berpasangan,
aku turut merasakan kesedihannya
Bagai sebatang rokok yang basah,
tak berguna.
Mungkin pasangannya sedang berteduh dibawah cemara,
Ataukah ia asyik bercumbu diseberang senja.


Rumput dan daun bait 2

Sehabis hujan,
daun menanyai rumput yang asyik mengeringkan ilalang.

Daun: "hei,menurutmu aku harus berterima kasih kepada dahan?"
Rumput: "tidak,kau harus balas budi pada duri yang menjaga dahan".
Daun :"aku sangat membenci duri !!, serupa engkau dendam pada kubangan"
Rumput: "kawan,aku menyukai air bagaimanapun bentuknya".

Sembari tersipu rumput melanjutkan menjemur tubuhnya.