Rabu, 27 Juli 2016

Entah?

langit, bagiku ibarat sebuah buku
yang terus berjudul tanda seru
Tebal halaman kiranya cuma penulisnya yang tahu
Apakah ada bait-bait  romansa? entahlah.

Langit malam,
serupa puisi tanpa tanda baca
hanya prosa yang bertutur manja
"Kita bersua selamanya"
gumam sang pemuja,
Entahlah.

Mampirlah,
di teras rumahku, esok
Kita bertukar cangkir teh
Lalu membaca langit pagi
Apakah ada novel atau puisi ? 
Entahlah.


Selasa, 12 Juli 2016

Terhulu alusinasi

Sang malam bertandang  dengan baju sirahnya,sembari menenteng tameng Beraut muka riang,
Sedikit sadar lututku bertekuk di hadapannya,
seraya menggenggam sehelai tenunan putih.
Dengan Tatapan hampa, ia seakan  tancapkan tombak tepat di dada sebelah kanan,
Mendatangkan patah hati sesakit ini
Membuat ketabahan mengalir ibaratkan ember penuh cat merah yang tumpah
Menggerek bendera setengah tiang
Untuk impianku yang telah punah.
Aku hanya butuh wadah,untuk  cendra mata berbentuk  kecewa.




Kamis, 07 Juli 2016

ResoNansi

ada Banyak aksara di pojokan kamar,tetapi  mengapa aku  gemar kesunyian, bergelimang gelap serta mabuk akan musik melankolis.
Waktu antara pagi dan petang aku masih Turut dalam gelak  tawa,
Terbahak sampai perutku mendengung kencang.
Kemudian  takdir mengenalkanku  kepada seorang berparas ayu,wajahnya oval berselimutkan buih-buih hujan,berteduhkan awan di bulan juni,aku yakin sifatnya juga seanggun senja petang nanti,
Cukup, aku telah  jatuh cinta  
Tanpa ada kata tetapi.


Minggu, 03 Juli 2016

Jeluk ramai





Di jeluk ramai.
Aku Memilih menatap dedaunan di bandingkan secangkir minuman dingin,
sebab daun selalu beraroma hening,
obatku Menghilangkan dahaga batin.
Aku pinta dahan-dahan bercabang ,bukan kursi sofa bermotif perangai,
Karena lebih nikmat buatku bercerita dengan burung kecil,di bandingkan bercengkrama dengan banyak manusia.
Aku bukanlah pembenci ramai
Aku hanya pencari sunyi.