Kamis, 28 April 2016

Ia


jendela berpigura kayu
berlukiskan ukiran layu
Malam sedang berpangku
aku Memeluk guling dalam rayuan malu, ia terus berbaring dalam  kebosanan.
di tepian kamar, menghalau sunyi dengan pena bertinta biru,tanpa sadar jemariku menuliskan kapital "RINDU"
Ia memulihkan ingatan dalam bait sang purnama, saat malam bergelantung, menusuk kejam di pelipisKu,
ibarat belati merah berderah,
puisi,  memulihkan segalanya, tentang ras manusia hingga keresahan semut di gedung berlantai langit.
Bagai spasi di tiap puisi
Tempat menghala nafas, saat aku melafalkan kapital "RINDU"


Selasa, 12 April 2016

Serambi




dekap malam,  jangkrik sesekali terdengar, menikung jua kicauan anak ayam,terdengar bagai alunan syair.
di kamarku,
Aku bagai angin
Mengharapkan rasa  ingin
Tetapi malah membawakanKu sebuah cermin
selasa Malam ,di binar halamanKu
Bias cahayanya  ibarat payung, meneduhkan kerinduan.
Kekasih, menetaplah dalam iringannya
merebah bersama mimpi pertemuan
Di kala malam mewujudkan
Kerinduan


Selasa, 05 April 2016

Hujani hujan

meraba langit menerkah tiap tetesanya apa namaMu yang  tersirat di dalamnya, kemudian  jatuh? 
Lemah jemariku untuk mengungkap sebuah ingatan, tentang perih, derita ataupun takdir.
Langit, jauh di atas puncak tanpa sedikitpun menoleh ke arahKu,
sedikit lirikan?? 
aku hanya lelucon di tengah hujan
Laksana pelaut tanpa kapal, ibarat petani tanpa ladang,perindu tanpa tahu kapan harus bertemu
Hanya jemari yang ku punya
Tanpa cincin  permata
Atau mobil berplat kaca
Dengarlah rintiknya malam ini dinda
Mengacuhkan suara malam, penikmat kopi pasti suka suasana nyaman ini, begitu pula remaja  menikmati kecupan kekasihnya di tengah hujan.
Caraku menikmati hujan hanya berbaring terbalik mengarah kasur sambil jemariku  menekan pena.
Bercerita tentang masa lalu ataupun kejadian mengagumi paras wanita, itu saja.  Tanpa ada perasaan membahas hari esok.
Hujani aku,hujan
Bersama melewati batas langit
Berlindung di tiap buih
Tetesan bergelimang rindu
Garap fikiranKu seperti sungai yang meluap karena rintikMu
tetapi Jangan hempas aku bersama petir saat lebatMu,
Aku adalah hujan di kala malam
tertutup gelap,
menyembunyikan gelak petir  berlarian di atas atap
Lalu berjatuhan di tepian taman,
itu aku
Awetkan tidurMu,
nyenyak dalam cintanya
hujan di kala malam
buatMu tertidur
Saat aku masih merapikan ingatanku.