Kamis, 10 Mei 2018

Enggan-enggan di air keruh

Berenggan-enggan beranjak di air keruh ibarat kerbau yang merendam di kubangan lumpur, masa bodoh dengan kucing anggora yang tampak bersih,
si kerbau tetap asyik dengan rutinitasnya.

Berenggan-enggan beranjak di air keruh,
Serupa layar yang retak tetapi tak di perbaiki,
masa bodoh orang lain berkata apa, jelasnya si pemilik tetap bisa berkabar pesan lewat handphone rusaknya.

Berenggan-enggan beranjak di air keruh,
Andai saja aku bisa melangkah tanpa harus mengeluh.


(saya tulis ketika pulang dari tengah hutan, handphone saya rusak terjatuh dari ransel,  suasana di posko gelap hanya pelita petromaks lengkap dengan nyamuk sawah beterbangan di sekitarnya)


Rayu

Di suatu sore aku sedang menghitung berapa banyak dedaunan yang gugur di rayu angin,
Ketika hitunganku tlah ada di angka puluhan,

Tiba-tiba kau ada di depan rumah sambil menghitung berapa banyak urat yang muncul di pipimu  ketika tersenyum ke arahku,

Apakah aku harus melanjutkan hitunganku, atau membalas rayuanmu ?


Sabtu, 31 Maret 2018

Durian


Tiap kali meremas pasir, 
mengapa  rasa-rasanya aku memegang buah berduri dengan bau yang menyengat,
Bukan pasir itu lembut, juga anggun ?
Apa yang salah ?

aku suka mengenangmu,
Tetapi aku benci memegang buah dengan durinya yang menusuk nalarku.

Aku ingat  membuatkanmu puisi,
Tetapi aku benci melihat orang-orang  memakan buah dengan bau yang menghardik ingatanku.

Aku tahu kapan terakhir mengantarmu pulang,
Tetapi aku tak menyukai jalan yang banyak terpajang buah durian.

Kita yang salah,
Siapa yang mulai lupa memberi kabar.