Sabtu, 18 Februari 2017

Pasir-pasir air mata


di teras petang
Rindu kian menggigil
Kenakan mantel hangatmu,
Sebelum hujan merajutkanmu sweter berbulu


Minggu, 12 Februari 2017

Lindap

ingatkah?
Kita pernah bersua diatas perahu bebek,
bersama mengayuh pedal bak bersepeda diatas lautan,
Merasai percik air yang menggelitik dinding sampan,
Kita terombang diantara buih merah muda,
Matamu berkedip di hembus angin senja laksana kedap mercusuar yang menuntunku menggenggam tanganmu.
  ingatkah ?, Kita pernah berdebat bagaimana cara ke hilir,
Saat gelombang  menjauhkan perahu dari dermaga,
tetapi Aku malah riang memandangi wajah cemasmu,
"Tenanglah", sahutku
Kita hanya terseret arus cinta.


Rabu, 01 Februari 2017

Saxonesti

Mozaik rindu terbentuk,
hari kamis menyatukannya,
Tak ada lagi puisi rahasia
Tak ada lagi suara saxophone mengagumi

Daun mata menunduk
Tak sanggup memikul air mata
Menangislah,
Selagi gerimis bertamu.


Senja yang risih







disaat bahtera nelayan berlabu,
manuskrip senja telahku terjemahkan,
bak berhasil merumuskan arti artefak atlantis
Aku girang dibuatnya.

Terima kasih buat angin barat telah menghantarkan lokomotif kesepian ke bibir lautan,
sehingga kumpulan prosa antalogi tersusun rapi bak gerbong kereta sore.

Senja bukan perihal jatuh cinta ataupun semacamnya,
senja juga tak akan mengagumi keindahan paras tulang rusuk,
Senja hanya mencoba 
mengartikan korelasi warna jingga dan biru,
Menceritakan kisah kaum patah hati yang memandangi dunia saat petang tiba.